Showing posts with label Masjid Bersejarah. Show all posts
Showing posts with label Masjid Bersejarah. Show all posts

Masjid Al Anwar, Angke

Kata angke menurut sejarawan Perancis Denys Lombard berasal dari kata Tionghoa yang berarti Riviere qui deborde yakni kali yang (suka) banjir. Di Jakarta Barat terdapat sebuah kali yang dinamakan Kali Angke yang dulunya memang sering banjir.

Mungkin karena letaknya berada di dekat kali yang sering banjir tersebut, maka masjid yang memiliki nama resmi Masjid Al-Anwar ini lebih populer di masyarakat dengan nama Masjid Angke. Masjid ini konon memang sering kebanjiran sehingga ketinggian lantai ruang shalat dinaikkan lima anak tangga dari lantai ruang luarnya. Namun, letak masjid ini sebenarnya menarik yakni berada di sekitar kampung warga etnis yang bersejarah baik bagi masyarakat Bali, Banten, dan terutama masyarakat Tionghoa.

Saat ini, bangunan masjid tua yang sangat menarik ini berlokasi di sebelah selatan Jalan Tubagus Angke (dahulu Bacherachts-gracht), Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya'ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar yang bersuamikan orang Banten.

Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166).

Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut.

Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), di mana beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal menjadi sangat marah dan memerintahkan untuk membunuhi orang-orang Tionghoa secara massal.

Namun, peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda sehingga sang jenderal dimintai pertanggungjawabannya dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya meninggal dunia.

Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.

Yang menarik dari penampilan masjid ini adalah langgam arsitekturnya yang merupakan perpaduan antara Jawa, Tionghoa dan Eropa. Langgam arsitektur Jawa dapat ditelusuri dari denah bangunan persegi, bentuk atap tumpang, dan sistem struktur saka guru. Bagaimanapun bentuk bangunan bujur sangkar dan atap tumpang seperti itu dengan jelas menunjukkan bentuk masjid tradisional Jawa. Termasuk sistem konstruksi empat saka guru di tengah ruang shalat yang menopang atap yang meskipun tidak menggunakan material kayu tetapi material beton/bata pada kolomnya, tetapi tetap memperlihatkan kesamaannya dengan sistem konstruksi masjid-masjid tradisional di Jawa.

Langgam Tionghoa dapat dilihat pada detail konstruksi pada skur atap bangunan yang mengingatkan pada skur bangunan Tionghoa atau klenteng. Skur kayu bertumpuk seperti ini memang merupakan pengaruh budaya Tionghoa yang juga banyak ditemukan di pantai utara Jawa antara abad ke-14 dan ke-18. Sedangkan bentuk dan detail pada ujung-ujung atap bangunan juga memperlihatkan langgam Tionghoa, meski ada yang berpendapat bahwa hal ini merupakan pengaruh seni bangunan Bali yakni punggel.

Sedangkan langgam Eropa dapat diamati terutama pada bukaan-bukaan seperti pintu, jendela dan lubang angin. Pintu-pintu di sini dicirikan dengan ukuran yang tinggi dan besar dan berdaun pintu ganda. Sedangkan jendelanya juga besar dan lebar-lebar, namun jeruji kayu ulir sebagai pengisi jendela seperti itu lebih menampakkan kemiripan dengan jendela khas rumah tradisional Betawi dan umum dipakai pada masjid-masjid kuno di Jakarta yang dibangun pada sekitar abad ke-18.

Masjid yang berbentuk bangunan tunggal dan kini menempati lahan seluas kurang lebih 500 m2 ini memiliki banyak elemen menarik. Elemen masjid yang paling unik yang dijumpai pada masjid ini adalah elemen Mimbar. Sebuah tempat khutbah berbentuk ceruk yang mirip seni sculpture tersebut menjadi aksen penting di dalam ruang shalat. Hiasan pada kiri dan kanan cerukan ini sangat serasi dengan tangga-tangga melingkar dari material marmer berwarna merah yang menuju ke kursi mimbar. Pola hiasan ini kembali diulang pada pengapit setiap pintu masuk terutama pada pintu utama (timur), yang diberi bingkai ukiran kayu. Bentuk mimbar memang sangat unik yang jarang dijumpai pada masjid-masjid lainnya di Jawa.

Selain itu, elemen ragam hias juga menjadi daya tarik tersendiri pada masjid yang pernah diperbaiki beberapa kali namun tetap menunjukkan ciri khasnya ini. Beberapa ragam hias yang menarik di antaranya adalah detail ukiran kayu corak floral natural dan kaligrafi pada kusen atau pintu utama, anak-anak tangga pintu masuk utama yang terbuat dari batu-batu candi berwarna merah, hiasan pada kanan dan kiri cerukan mimbar, dan hiasan pipit gantil pada setiap ujung atap bangunan masjid. Yang disebut terakhir ini sekilas nampak seperti ornamen "emprit gantil" pada konstruksi rumah-rumah tinggal di Jawa namun jika dilihat detailnya dengan jelas memperlihatkan sentuhan langgam Tionghoa.

Arsitek Unik

Dari segi penggunaan ruang, masjid juga memiliki keunikan yakni sudah terdapatnya semacam mezanin yang memanfaatkan ruang di bawah atap tumpukan. Mezanin yang bisa dicapai dari anak tangga di sebelah timur salah satu kolom saka guru ini konon dulunya dipakai untuk mengumandangkan adzan, itikaf dan tempat pertemuan-pertemuan penting. Mezanin seperti ini juga terdapat di Masjid Al-Mansyur di Jalan Sawah Lio Jakarta Barat yang telah berdiri sejak tahun 1717.

Di dekat masjid terdapat makam putra Sultan Pontianak Pangeran Hamid Al-Qadri yang dibuang ke Batavia pada masa Pemerintahan Hindia Belanda karena mengadakan pemberontakan pada sekitar tahun 1800-an. Makamnya terbuat dari batu pualam dan terdapat tulisan yang menyebutkan usia sultan yakni meninggal dunia dalam usia 64 tahun 35 hari. Ia meninggal pada tahun 1854. Namun nisan yang konon tertua adalah nisan Ny Chen, seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim, dan kini disimpan di samping masjid.
Lanjut

Masjid Al-Mansur (1717)Sawah Lio, Jembatan Lima, Jakarta Barat

Konon sebelum diberi nama Al Mansur, pembangunan masjid ini dirintis oleh seseorang dari Kerajaan Mataram bernama Abdul Malik. Abdul Malik adalah putra dari Pangeran Cakrajaya, yang sebelumnya bergabung dengan Tentara Mataram berperang di Batavia.

Tahun 1717 masehi tercatat sebagai tahun pembangunan masjid bermenara setinggi 50 meter, berkubah seperti topi baja kompeni, dan berjendela di sepanjang batang menaranya ini.

Tak ada catatan resmi, diberi nama apa masjid dengan atap seperti rumah biasa ini. Namun yang pasti seperti diakui oleh masyarakat sekitar daerah Kampung Sawah Lio, Tambora, alur sejarah masjid Al Mansur diyakini seperti itu adanya. Hingga dua abad kemudian kegiatan dakwah tetap diteruskan oleh keturunan Abdul Malik, seperti Imam Muhammad Habib, dan ulama-ulama perantau seperti Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin, pengarang kitab Sabilil Muhtadin.

Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin inilah yang kemudian memperbaiki letak mihrab masjid. Pembentulan arah kiblat itu diakukan bersama-sama dengan sejumlah ulama lokal pada 2 Rabiul Akhir 1181 H atau 11 Agustus 1767 M. Dua abad berikutnya, tanggal 25 Sya'ban 1356 H / 1937 M dibawah pimpinan KH. Muhammad Mansyur bin H. Imam Muhammad Damiri diadakan perluasan bangunan masjid. Berturut kemudian, untuk menjaga terpeliharanya tempat suci serta makam-makam para ulama (di depan kiblat), maka di sekitar masjid dibuatkan pagar tembok (sekarang berpagar besi).

Tahun '60-an adalah kali kedua masjid di Jalan Sawah Lio ini dipugar. Hasilnya seperti yang terlihat sekarang. Merapat dengan jalan di selatan, di bagian utara dan timur berdempetan dengan pemukiman. Seperti Masjid Al-Alam, Al-Anwar dan As-Salafiyah, bangunan asli masjid ini berukuran 10x10 m2 --bekasnya adalah bagian terendah di dalam masjid. Arsitekturnya pun tak jauh berbeda dengan model-model masjid masa itu. Beratap joglo dua tingkat dan ditopang empat pilar besar berdiameter 1,5 meter. Jendelanya hanya sebuah lobang segi empat berteralis kayu profil gada pada setiap sisi tembok. Model pintunya, berdaun dua dengan profil pahatan berlian. Kini, tembok, jendela dan pintu di semua sisinya dimajukan sejauh 10 meter.

Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, masjid ini digunakan sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tambora, pimpinan KH. Muhammad Mansur. Sebuah pertempuran frontal dikisahkan pernah terjadi di muka masjid. Terjadi baku tembak antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Baku tembak itu dipicu oleh tindakan berani KH. Mohammad Mansur yang mengibarkan bendera Merah Putih di atas kubah menara masjid. Sesudah peristiwa tersebut KH. Muhammad Mansur lalu dipanggil ke Hofd Bureau (Polsek) untuk diadili dan ditahan atas perbuatannya itu. Karena keaktifan Muhammad Mansur memimpin perjuangan dan pergerakan melawan Belanda, pemerintah memberi kehormatan dengan memberi nama masjid bersejarah itu Masjid Jami Al Mansur.

Dan nama beliau pun diabadikan untuk nama jalan persis di muka Jalan Sawah Lio II, Kelurahan Jembatan Lima. Tanggal 12 Mei 1967 KH. Muhammad Mansur wafat, dan kepengurusan masjid dekat Stasiun KA Angke dan Pasar Jembatan Lima ini dilanjutkan oleh Badan Panitia Kepengurusan Masjid Jami Al Mansur hingga sekarang.
Lanjut

Masjid Al Atiq, Tertua dengan Kaligrafi Misterius

Bukan tanpa alasan kalau Gubernur DKI era 1970-an, Ali Sadikin memberi nama masjid yang terletak di Jl. Masjid I, RW I, Kampung Melayu Besar, Tebet, Jakarta Selatan, dengan nama Masjid Jami Al Atiq. Al Atiq sendiri berarti tertua, dan memang Masjid Al Atiq itulah yang secara lisan diyakini sebagai masjid tertua yang ada di seluruh Jakarta.

Kapan persisnya pendiriannya sebetulnya tak ada yang tau persis. Tetua setempat meyakini masjid didirikan tahun 1632 M/1053 H. Pendirinya adalah pasukan Sultan Ageng Tirtayasa (Banten) yang tengah berperang dengan VOC."Dulunya masjid ini atau orang bilang surau ini tujuannya buat tempat istirahat pasukan Sultan Ageng,” terang H Nashir, salah satu tetua Kampung Melayu Besar.

H Nashir menunjuk letak masjid yang persis di tepi Kali Ciliwung sebagai indikasi kebenaran ceritanya. Menurutnya, pada zaman dahulu pergerakan tentara selalu saja memanfaatkan sungai, baik sebagai transportasi atau sumber minum. Tak heran, banyak tempat peristirahatan raja dulu dibangun di tepi sungai.

Namun itu bukan satu-satunya versi. Pihak lain menyebut Masjid Jami Al Atiq dibangun lebih awal, sekitar tahun 1500-an oleh Sultan pertama Banten, Maulana Hasanudin yang juga putra dari Sunan Gunung Jati. Saat itu masjid ini diberi nama Masjid Kandang Kuda, karena letaknya di perkampungan tukang sado. Pasukan Sultan Ageng kemudian membantu merenovasi masjid tersebut.

Yang percaya versi ini umumnya menunjuk struktur dan arsitektur masjid yang tak banyak beda dengan masjid-masjid buatan Walisongo yang berada di Jawa Tengah. Atapnya berbentuk prisma sedangkan penyangganya dulunya terbuat dari kayu jati, yang sayang kini telah dipugar berganti dengan beton-beton berlapis keramik atau marmer.

Namun demikian secara keseluruhan masjid ini masih mempertahankan bentuk aslinya yang dikatakan seperti masjid Demak. Satu komponen masjid yang tetap dipertahankan adalah trisula masjid yang berada puncak menara masjid. Sementara komponen peninggalan-peninggalan kuno lainnya sudah diserahkan kepada Pemprov DKI untuk kemudian ditempatkan di dalam museum.

Salah satu keunikan masjid ini adalah tulisan kaligrafi yang berada di atas mimbar khotib yang ternyata sampai sekarang belum diketahui apa tulisannya. "Yang unik itu kaligrafinya. Sampai sekarang juga belom ada yang bisa baca apa tulisannya. Mau di bolak-balik juga tidak ada yang bisa baca" kata Habib, salah seorang merboat masjid.

Habib juga bercerita sebelum mengalami pemugaran, di dalam masjid ini terdapat dua buah makam pengurus pertama masjid ini, tepatnya berada tepat di samping mimbar atau tepat di tempat berdirinya imam. Namun memang, siapa nama pemilik makam tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun sesudah pemugaran, makam-makam tersebut dipindahkan.
Lanjut

Masjid Jami As-Salafiyah (1620) Jatinegara Kaum

Sekitar bulan Mei tahun 1619 di daerah Mangga Dua, pasukan Pangeran Jayawikarta---selanjutnya lebih dikenal dengan Jayakarta, berhadap-hadapan dengan tentara Pemerintah Hindia Belanda pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pietersen Coen. Pertempuran sengit terjadi, dan pasukan Pangeran Jayakarta terdesak.

Pasukan Belanda mengepung dari arah Senen, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok. Karena terjepit Pangeran Jayakarta dan pasukannya bergerak mundur ke timur hingga daerah Sunter, lalu ke selatan. Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua.

Mengira Pangeran Jayakarta telah tewas kedalam sumur tua itu, Pasukan Belanda menghentikan pengejaran dan menimbun sumur itu dengan tanah. Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk kembali, Pangeran Jayakarta dan sisa pengikutnya meneruskan perjalanan terus ke selatan. Sampailah mereka ke sebuah hutan jati yang lebat. Untuk sementara mereka beristirahat di tepi Kali Sunter yang membelah hutan itu yang kemudian dikenal masih bagian dari daerah Jatinegara.

Seterusnya Pangeran Jayakarta dan pengikutnya menetap dan membangun perkampungan baru di tempat itu. Perkampungan berkembang dengan kehadiran kaum pendatang lainnya. Dikisahkan, karena di tempat itu masih banyak hutan jati maka sumber ekonomi masyarakatnya mengandalkan diri dari kerajinan kayu jati. Inilah mungkin mengapa daerah Klender-berdekatan dengan Jatinegara Kaum, dikenal sebagai pusat industri furnitur hingga kini.

Mulai tahun 1620, Pangeran Jayakarta membangun sebuah masjid yang lokasinya berdekatan dengan Kali Sunter. Dahulu sebelum bernama Masjid As-Salafiyah, masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Pangeran Jayakarta. Dalam perkembangannya, masjid ini rupanya digunakan oleh Pangeran Jayakarta untuk menggalang kekuatan kembali. Berpuluh-puluh tokoh masyarakat dan jawara serta ulama seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.

Tahun 1700 Pangeran Sugeri, putera Sultan Fatah dari Banten, memugar masjid ini. Sebelumnya bersama-sama dengan Pangeran Jayakarta, Sugeri dan Fatah yang terbuang dari Kesultanan Banten ini---karena Sultan Haji saudara Sultan Fatah melakukan kup dibantu Belanda, berjuang melawan Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pangeran Jayakarta dan Pangeran Sugeri kemudian dimakamkan di komplek masjid bertiang penyangga jati ini.

Tercatat beberapa peninggalan sejarah masjid ini hilang tak ketahuan rimbanya. Yang tersisa hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid. Seperti nasib masjid tua lainnya, As Salafiyah sekarang lebih terlihat lapang. Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh temboknya. Persis sama dengan masjid-masjid seumurnya, tampaknya ukuran asli As Salafiyah hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya---separuh bagian barat bangunan. Dan inilah masjid tua yang paling banyak memiliki makam di sisi selatan, barat, dan utara.

Mudah saja memilih angkutan untuk menuju ke Masjid As-Salafiyah. Terminal Pulogadung atau Pasar Klender adalah terminal yang terdekat dengan masjid. Dari Senen ada MetroMini T-47, dari Kampung Rambutan ada Patas 98, dari Rawamangun ada Angkot T-26, dan dari Kampung Melayu ada Kopaja T-501.
Lanjut

Masjid Lautze, Masjid Ngontrak

Masjid ngontrak ? pernahkah anda dengar? Mungkin Masjid Lautze masjid pertama di Indonesia yang pernah terpaksa mengontrak gedung demi tegaknya syi’ar agama Islam di kalangan etnis Cina. Karena sebagian besar jama’ah masjid adalah mu’alaf (orang yang baru masuk Islam), di saat bulan ramadhan pengajian mingguan banyak dilakukan di rumah-rumah pejabat. Apa sih uniknya mereka ? Berdiri di tengah-tengah daerah perdagangan, gedung berlantai empat di jalan Lautze No 87-89, Pasar Baru, Jakarta ini seperti layaknya ruko (rumah toko). Papan nama berwarna merah. Pintu-pintunya pun berwarna merah. Warna khas etnis Cina.

Namun ada nuansa lain dalam bentuk bingkai pintunya yang melengkung. Lengkungan itu seperti gaya bangunan seni Islam. Gambarannya pun serupa masjid. Ternyata, lantai bawah bangunan yang bertuliskan nama Yayasan Haji Karim Oei (baca: Karim Ui) memang berfungsi sebagai masjid, yaitu Masjid Lautze.

Yayasan Haji Karim Oei didirikan 9 April 1991. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu. Nama yang terdengar bernuansa Cina ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan misi yayasan yang berupaya menyebarkan Islam di kalangan etnis Tionghoa.

Selain dikenal sebagai konsul Muhammadiyah karena ketaatannya menjalankan syari’at Islam dengan baik, H Karim Oei juga seorang bisnismen yang sukses. Ia merupakan salah satu pendiri Bank Central Asia (BCA), Preskom BCA dan pemilik berbagai perusahaan yang sukses, khususnya di bidang industri. “Karena itu, setelah bapak meninggal, Pak Yunus Yahya (tokoh pembauran) dan kawan-kawan mendirikan yayasan ini untuk mengenang almarhum. Tujuannya, agar lahir Karim Oei-Karim Oei baru yang Islamnya kuat, nasionalis tulen dan bisnismen sukses,” tutur H Ali Karim, SH, salah satu anak H Karim Oei dan menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei. Lokasi gedung memang terletak di area Pecinan (China town).

Sehingga, memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam. “Mungkin sebenarnya banyak orang Tionghoa ingin tahu tentang Islam. Tetapi kebanyak mereka takut atau ragu untuk masuk masjid. Dengan melihat papan nama yang mencantumkan jelas nama Haji Karim Oei, tentu orang sudah tahu bahwa ini yayasan Islam yang ada hubungannya dengan etnis Cina. Sehingga, kalau ada orang Tionghoa lewat sini dan ingin masuk Islam, tidak akan sungkan lagi,” papar Ali.

Meski sarat nuansa Cina, Ali menegaskan, keberadaan yayasan terbuka untuk setiap orang. ”Salah, kalau ada yang mengatakan yayasan ini adalah perkumpulan cina muslim. Misinya memang untuk orang Cina, tapi kegiatannya siapa saja boleh ikut. Bahkan, kita pun tidak menutup kemungkinan bagi non muslim untuk berpartisipasi membantu yayasan atau mengikuti berbagai forum kegiatan di sini.” Stereotipe orang Cina pasti kaya, juga dialami oleh yayasan. Itu terlihat dari banyaknya permohonan bantuan pada yayasan. Padahal, pada awal berdirinya, untuk menebus akte pendirian sebesar Rp 100.000 saja pihak yayasan tidak mampu.

Beruntung, yayasan mendapat tugas mengurus jama’ah haji dengan ONH Plus. Uang komisi dari tugas itulah yang digunakan untuk membayar akte. Setelah yayasan berdiri, kendala lain muncul. Yayasan belum mempunyai tempat. Maka, mau tak mau harus mengontrak gedung di lantai bawah di jalan Lautze untuk kantor. Ide lain kemudian muncul dari ketua umum Yayasan yaitu Drs H Junus Jahja untuk membangun masjid. “Tidak ada jalan lain, kita hanya punya satu lantai digunakan untuk masjid. Sedang kantor kita pakai ruangan pak Yunus yang berada di lantai dua,” ungkap Ali seraya menambahkan, “jadilah masjid ini masjid pertama di Indonesia yang ngontrak.

Masjid Lautze baru dinyatakan milik yayasan, setelah Prof DR Ing Habibie melalui ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) saat itu yaitu H Ahmad Tirtosudiro (sekarang mantan ketua DPA), membayar harga gedung berlantai empat secara keseluruhan. Yaitu, sekitar 1998 yayasan telah memiliki gedung sendiri dan digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam. (*) Catatan Redaksi: Baru masuk Islam? Bisa bergabung dengan PITI (Persatuan Iman Tauhid Indonesia dulu bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) di Gedung PITI Jl. Hayam Wuruk No. 100 L, Jakarta Barat. Telepon 021-629-3431 Fax 021-629-3453 dengan Ibu Dina Leonard Atau Yayasan H Karim Oei yang beralamat di Jl Lautze 87 - 89 Pasar Baru Jakarta Pusat. No. Telepon 021-629-6086 dengan Ibu Hj. Anna

Sumber : www.pesantrennet.org
Lanjut