Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Keutamaan Sholawat kepada Rasulullah SAW


Sufyan Ats Tsauri bercerita, " Aku melihat seorang lelaki, ia tidak mengangkat atau meletakkan kakinya kecuali bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Aku bertanya kepadanya, Hai pemuda, mengapa engkau tinggalkan tasbih dan tahlil dan hanya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW ? "

" Siapa kamu, semoga Allah memberimu kesehatan ? " tanya sang pemuda.

" Aku adalah Sufyan Ats Tsauri. "

" Kalau kamu bukan  orang yang asing di zamanmu, aku tak akan membuat rahasiaku, ucap sang pemuda. ia lalu mulai bercerita.

" Suatu hari aku bersama ayahku pergi haji ke baitullah al haram. Dalam perjalanan ayahku sakit dan meninggal dunia. Kulihat muka ayahku berubah hitam. Lalu kututup wajahnya dengan kain. Ketika menunggu mayatnya, aku sangat mengantuk sehingga aku tertidur. Dalam tidurku aku melihat seorang yang sangat tampan. Belum pernah aku melihat pria setampan dia, berpakaian sebersih pakaiannya. dan berbau seharum tubuhnya. Ia berjalan mendekati ayahku, menyingkap kain yang menutupi wajahnya, kemudian mengusapkan tangannya kewajah ayahku. Wajah yang semula hitam segera berubah menjadi putih. Setelah itu ia berbalik hendak pergi. Aku lali memegang bajunya dan bertanya, " Siapakah kamu sebenarnya, semoga Allah merahmatimu ? " Kedatanganmu sungguh merupakan karunia Allah bagiku.
Tidakkah kamu mengenal aku. Aku adalah Muhammad bin Abdillah, kepadaku Quran telah diturunkan. Sesungguhnya ayahmu menyia - nyiakan dirinya. Namun, ia banyak bersholawat kepadaku. Ketika mengalami apa yang sedang ia alami, ia meminta tolong kepadaku, sedangkan aku adalah penolong bagi orang - orang yang banyak bersholawat kepadaku.

Ketika bangun dari tidur, kulihat wajah ayahku telah berubah putih. Barang siapa ingin dekat dengan Al Musthafa dan bercakap - cakap dengannya hendaknya ia menyempurnakan asasnya, yaitu selalu mengikuti Rasulullah SAW dalam perbuatan, ucapan dan segala hal. Para salaf kita tidak pernah meninggalkan sunnah dalam setiap langkah mereka.

Setiap orang yang ingin dekat dengan Nabi Muhammad SAW hendaknya melaksanakan perintah beliau walaupun hukumnya sunah, dan menjauhi segala larangan beliau walaupun hukumnya makruh. Karena semua amal umatnya akan ditunjukkan kepada beliau. Jika umatnya beramal saleh, beliau akan merasa senang, mencintai, dan menyebut - nyebut namanya sehingga Allah melimpahkan rahmatNya.

Sholawat Kepada Nabi Muhammad Saw menjanjikan pahala yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : " Barang siapa bersholawat kepadaku sekali, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali. " ( HR Muslim, Turmudzi, Abu Dawud,Nasai dan Ahmad )

Barang siapa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu duduk, ia akan di ampuni sebelum berdiri. Dan barang siapa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu tidur, ia akan di ampuni sebelum bangun.

Diriwayatkan bahwa Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq meminta ibunya untuk memeluk agama islam, namun ia menolak, kemudian Sayidina Abu Bakar pergi kerumah Rasulullah SAw mengabarkan hal ini. Ketika hendak pulang, ia memohon doa Rasulullah SAW agar ibunya masuk islam. Rasulullah SAW mengabulkan permintaannya. Sesampainya di rumah, Sayidina Abu Bakar melihat ibunya sedang tidur sambil bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah bangun dari tidurnya ia segera masuk islam.

Kejadian ini semua adalah berkat sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat merupakan guru bagi mereka yang tak memiliki guru, karenanya sholawat tidak butuh guru maupun hudhur tetapi akan lebih sempurna jika diucapkan dengan hati yang hudhur. Riya' tidak dapat menghapuskan pahala sholawat. Al Habib Ahmad bin Ali Assegaff
Lanjut

Akhlak Rasulullah di Undang Makan Seorang Budak

Dan Rasulullah SAW tidak pernah mau mengecewakan orang lain, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa seorang wanita ( Barirah RA) seorang budak wanita miskin dari Afrika, ia mengundang Rasul SAW karena diberi makanan oleh salah seorang sahabat makanan yang sangat enak, maka ia tidak berani memakannya karena sudah lama ingin mengundang Rasul SAW tapi malu tidak punya apa-apa.


Maka ketika datang makanan enak sebelum ia ingin mencicipinya, seumur hidup dia belum mencicipinya dia teringat kepada Rasul SAW, aku ingin Rasul datang mumpung ada makanan yang enak padahal seumur hidup dia belum mencicipi makanan itu.

Barirah yang susah ini pun datang mengundang Rasul SAW ke rumahnya, maka Rasul SAW datang bersama para sahabat untuk menyenangkan Barirah RA seorang budak wanita yang miskin, Rasul saw tidak ingin mengecewakan orang lain maka datang Sang Nabi bersama para sahabat, para sahabat melihat makanan yang sangat enak dan mahal tidak mungkin Barirah membelinya sendiri, maka berkata para sahabat : “Yaa Rasulallah barangkali ini adalah makanan zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah , kalau bukan makanan zakat ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh memakannya”…
Berubahlah hati Barirah dalam kekecewaan, hancur hatinya dengan ucapan itu walau ucapan itu benar Rasul SAW tidak boleh memakan shadaqah dan zakat, namun ia tidak teringat akan hal itu karena memang ia di sedekahi makanan ini, hancur perasaan Barirah RA dan bingung juga risau dan takut serta kecewa dan bingung karena sudah mengundang Rasul SAW untuk makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah SAW.

Namun bagaimana manusia yang paling indah budi pekertinya dan bijaksana, maka Rasul SAW berkata : “ Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah dan sudah menjadi milik Barirah, Barirah menghadiahkan kepadaku maka aku boleh memakannya “, dan Rasul SAW pun memakannya.
Demikianlah jiwa yang paling indah tidak ingin mengecewakan para fuqara’, itu makanan sedekah betul untuk Barirah tapi sudah menjadi milik Barirah dan Barirah tidak menyedekahkannya padaku ( Rasulullah SAW ) tapi menghadiahkannya kepadaku demikian indahnya Sayyidina Muhammad SAW,  

Firman Allah SWT :
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sungguh engkau ( Muhammad SAW ) berada pada akhlak yang agung”.
Lanjut

Ceramah al-Habib Umar bin Hafidz di Khaul Cidodol 2010

Khaul Syekh Abu Bakar bin Salim, di Cidodol, Kebayoran Lama, 03 Januari 2010.

Bismillahirrohmanir rohim, Alhamdulillah segala puji dan syukur kepada Allah Ta’ala, kita pada saat ini, saya dan kalian berkumpul dihadapan Allah SWT. Kita menanti dipintu Allah Yang Maha Pemurah yang Maha Dermawan. Semuanya ini disebutkan dalam dakwahnya Nabi Besar Muhammad SAW, pemimpin sekalian Rasul, dengan itulah berdiri tiang-tiang kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Nabi-Nya, kecintaan kepada orang-orang yang soleh, para awliya dan sholihin dan kaum mukminin.

Dan segala macam kemuliaan yang diberikan Allah SWT ini kepada kita saat ini, ini adalah pemberian yang diberikan Allah SWT secara cuma-Cuma tanpa didahului dengan uang muka dari kita sekalian. Wahai orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah SWT dengan beragam kemuliaan dimajelis ini, yang mana saat ini kita mencari rahmat dan karunia Allah SWT dan kita telah diberikan Allah SWT, maka perhatikanlah bahwa saat ini Allah sedang menatap kita sekalian.

Dan Allah SWT mengetahui apa yang ada didalam benak dan rahasia sanubari kita. Dan Allah SWT mengetahui apa yang kita sembunyikan didalam hati kita. Bagi Allah sama saja apa yang nampak kita utarakan ataupun kita sembunyikan, semuanya sama dimata Allah SWT. Apabila kalian mencari keridhoan dari  Allah SWT dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya, maka Allah SWT akan melimpahkan keridhoan-Nya  kepada kalian. Dan orang yang suka maksiat, Insya Allah dapat meraih keberkahan dari berkah orang-orang yang taat pula.

Apabila kita merayakan, bergembira dengan khaulnya Syekh Abu Bakar Bin Salim ini sesungguhnya kita bergembira dengan karunia yang diberikan Allah SWT. Dan kita merayakan bergembira dengan rahmat yang diberikan Allah SWT. Dan kita merayakan nikmat yang dikaruniakan Allah SWT. Dan kita bergembira dengan jasa yang Allah SWT berikan kepada kita sekalian. Dan kita merayakan warisan dari Nabi Muhammad SAW. Dan seseorang yang merayakan seorang pewaris, maka dia pun merayakan orang yang mewariskannya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dan kita merayakan cahaya-cahaya iman dan yakin. Dan kita merayakan sifat-sifat yang mulia disisi Allah SWT.

Apabila kita saat ini berkumpul merayakan hal-hal yang mulia tersebut, orang-orang yang mulia yang dekat dengan Allah, maka sungguh pantas tidak diragukan bahwa  Allah pun akan mendekatkan kita kepada-Nya.

Berapa besar karunia Allah SWT untuk umat ini, berapa banyak orang yang masuk kedalam majelis ini, dalam keadaan tadinya dia jauh dari Allah, dia keluar dari majelis ini dalam keadaan sudah dekat dengan Allah. Bahkan berapa orang yang masuk kedalam majelis ini, tadinya dia dicatat sebagai orang yang sial, dia keluar dari majelis ini sebagai orang yang beruntung.

Dan berapa banyak orang yang hadir dalam majelis ini tadinya hatinya penuh dengan kekotoran, keluar dengan membawa hati yang bersih bercahaya. Berapa banyak orang yang hadir dalam majelis ini, hatinya gelap gulita, dia keluar dengan membawa hati yang terang benderang. Berapa banyak orang yang masuk dalam majelis ini dalam keadaan Allah SWT tidak suka, berpaling dengan orang tersebut, tetapi tidaklah dia keluar dari majelis ini melainkan Allah SWT mencintai orang tersebut.

Wahai orang-orang yang mencari kebaikan yang saya sebutkan ini, sungguh-sungguhlah dalam pencarianmu. Dan kembalilah kepada Allah SWT. Dan merendahlah, tunduklah kepada keagungan Allah SWT. Dan agungkan Allah SWT. Dan tetap tidak ada yang lebih agung dari Allah SWT. Dan tidak ada yang lebih besar dari Allah SWT. Dan tidak ada yang lebih dermawan dari Allah SWT.

Allah SWT yang telah mengangkat derajat Nabi Muhammad SAW. Allah SWT yang mengangkat derajat Nabi-Nabi, mengangkat derajat para malaikat dan para wali-wali serta kaum sholihin. Mereka adalah orang-orang yang sangat tinggi disisi Allah. Dan orang-orang yang mencari selain ketinggian selain dari yang mendekatkan kepada Allah maka mereka itulah orang-orang yang jatuh dan terjerumus.

Bumi telah menjadi saksi atas bergenerasi- generasi manusia, bergenerasi- generasi umat dan kelompok yang mana mereka mencari kemuliaan selain dari Allah, maka mereka pun hina dan terpuruk dijatuhkan oleh Allah SWT.

Diantara mereka yang mencari kemuliaan dan kehebatan melalui kehebatan senjata, seperti kaum ‘Ad kaumnya Nabi Hud yang mengatakan, “siapa yang lebih kuat dan lebih hebat dari kami?”. Yang lain lagi merasa hebat dengan harta yang ia miliki, yang demikian banyak hartanya seperti Qorun. Diantara mereka ada yang mencari kehebatan dan kemuliaan melalui hukum, pemerintahan serta kekuasaan seperti Fir’aun dan Namrud. Semuanya sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT, kami habisi mereka, kami ambil akibat perbuatan dosa mereka. Diantara mereka yang ditenggelamkan, yang dikirim halilintar, dihancurkan rumah mereka. Bukan Allah  yang menzholimi mereka, tetapi mereka yang menzholimi dirinya sendiri.

Dan sekarang dimuka bumi ini orang masing-masing mengadakan perkumpulan- perkumpulan untuk mencari kemuliaan, keamanan dan kehebatan selain dari Allah. Mereka orang-orang yang dengan pekumpulannya tersebut menuai keamanan, derajat yang tinggi dan yang lain sebagainya mereka menyangka bahwa orang-orang yang sebelumnya, dari umat-umat yang terdahulu itu, mereka mendapat kehebatan dari harta dan apa yang mereka miliki, dimata Allah SWT akan menambah kedudukan mereka.

Akan tetapi dengan majelis semacam inilah kita berharap kepada Allah SWT, dengan majelis inilah kita mencari dan meminta kepada Allah SWT, dan kita menuju dan bermaksud kepada Allah SWT. Dan kita bertumpu kepada Allah. Dan kita bersandar dan bergantung kepada Allah SWT. Dan kita mendekatkan diri dengan hal yang  mendekatkan kita dengan Allah SWT dan yang disukai oleh Allah SWT. Justru dengan keberadaan majelis semacam ini umat akan membaik dan akan menjadi semakin bagus.

Allah SWT mudah-mudahan memperbanyak majelis-majelis semacam ini dan Allah SWT mengabadikan pengaruhnya dalam jiwa kita. Dan kita dalam perkumpulan kita ini, diawal tahun yang mulia ini berdoa dan berharap kepada Allah SWT. Kita meminta agar Allah SWT menolak dari diri kita, dari seluruh kaum muslimin, dan seluruh rakyat Indonesia serta seluruh penjuru dunia berbagai macam bala’ dan musibah yang membawa keburukan bagi umat Islam ini.

Dan alangkah kuatnya apabila, betapa kuatnya karunia yang kita dapat dari Allah SWT, berdoa kepada Allah SWT dimajelis yang mulia ini, kita berdoa bersama-sama dan mengucapkan amin kepada Allah SWT.

Apabila keluar dari majelis ini hati-hati jiwa-jiwa yang tunduk kepada Allah, yang memohon kepada Allah SWT, yang luluh karena malu kepada Allah SWT maka dia telah keluar membawa rahmat dan karunia yag besar dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman seketika kalian meminta tolong kepada Allah SWT dan Allah SWT menjawab doa kalian. Malah semalam sebelum turunnya ayat ini Rasulullah SAW tidak bisa tidur, Beliau bermunajah dalam tahajudnya, “Ya Hayyu Ya Qoyyum”. Beliau banyak menangis. Beliau banyak memohon kepada Allah SWT. Maka Sayidina abu Bakar Ash Shidiq RA yang bersama Nabi ikut menangis dan memeluk Rasulullah SAW dan berkata , “Cukup ya Rasulullah, Allah SWT pasti akan mengabulkan doamu”. Dan Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya mengetuk pintunya Allah SWT dan memohon kepada Allah SWT.

Sebaik-baiknya hal yang ada didalam hati kita pada saat Allah SWT sedang menatap hati dan batin kita adalah bagi Allah menemukan dalam hati kita penyesalan atas kesalahan dan dosa-dosa kita. Dan sesungguhnya sebagaimana dalam hadis, orang mukmin; dia memandang dosa yang dia lakukan, dosa pribadinya itu bagai gunung yang ada diatas kepalanya yang sewaktu-waktu bisa bisa menimpa dirinya dan membinasakannya. Adapun seorang munafik; menganggap dosa yang dia lakukan itu bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya yang bisa dia usir kapan waktu.

Ketika Imam Hasan Al Bashri melewati sekelompok kaum sedang beradu mulut tentang masalah qodho dan qodar tanpa didasari ilmu, mereka berbincang-bincang dalam masalah yang mereka tidak mengerti, maka Imam Hasan Al Bashri mengatakan, jika mereka masih memikirkan dosa-dosa mereka niscaya mereka tidak akan ada waktu untuk membicarakan hal-hal semacam ini.

Bagaimana halnya dengan seseorang yang setiap hari dan malam harinya dia habis waktunya dalam pandangan yang diharamkan oleh Allah SWT.  Bagaimana dengan seseorang yang habis waktunya dalam menjelek-jelekkan para orang-orang sholeh, sahabat Nabi dan keluarganya. Bagaimana dengan keadaan seseorang yang ingin mengatur, menganggap orang lain dari para pendahulunya, orang-orang besar, mau diatur dengan hukumnya dan mau menghakimi mereka seenak perutnya sendiri, menganggap mereka itu orang biasa dan kecil. Seandainya mereka memikirkan dosa mereka, niscaya mereka tidak akan tenggelam sibuk dalam hal-hal semacam begini.

Ini bukan sikap orang-orang yang memikirkan dosa-dosa mereka. Ini adalah yang di firmankan Allah SWT, dalam Al Qur’an yakni sifat-sifat yang mulia, dalam hal ini adalah orang-orang yang apabila datang ke Nabi setelah mereka, yakni yang mengatakan Rabbanafirlana ampuni kami sekalian dan juga dosa orang-orang sebelum kami pendahulu-pendahulu kami. Dan jangan jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yeng beriman. Sesungguhnya Kau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Syekh Abu Bakar bin Salim, beliau  mencari pengampunan dari Allah SWT untuk diri beliau dan orang-orang di zaman beliau. Dengan susah payah beliau meminta kepada Allah SWT. Beliau setiap malam menangis untuk Allah SWT. Beliau apabila disampaikan kepada beliau atau mendengar dari orang lain kalau ada orang lain yang menjelek-jelekan dan menghinakan beliau, beliau langsung berdoa dan mendoakan orang tersebut dan memohonkan ampunan karunia Allah SWT untuk orang itu.

Dan sesungguhnya itu apabila ada orang yang mengganggu beliau dalam waktu cepat dekat disusul musibah menimpa orang yang mengganggunya. Ditanya Syekh Abu Bakar bin Salim, “apakah kamu menyumpah orang-orang yang mengganggumu?”. Dijawab, “ tidak aku sama sekali tidak pernah menyumpahi orang islam, akan tetapi  Allah SWT yang murka terlebih dahulu, kecemburuan- Nya terhadap para wali-wali-Nya tanpa sebelum aku tahu, maka dibinasakan Allah SWT, kalau aku tahu aku akan minta tolong terlebih dahulu”.

Warisan dari Nabi Muhammad SAW, yang mana sifat Nabi Muhammad SAW tentang kaum munafikin ketika Beliau mengatakan,” Seandainya aku tahu kalau aku beristighfar untuk mereka lebih dari 70 kali akan diampuni Allah untuk mereka, maka aku akan beristghfar lebih dari 70 kali agar mereka diampuni”.

Syekh Abu Bakar Bin Salim, beliau membentuk majelis-majelis ilmu dan majelis zikir untuk orang awam dan orang khusus. Datang pada beliau murid-murid dari jauh, dari Syam, dari Mesir, dari Haromain dan dari tempat pelosok yang jauh untuk menimba ilmu kepadanya.

Beliau mendidik murid-muridnya, mendidik sekalian manusia untuk bersikap adab yang patut kepada Allah SWT. Sebagaimana kita dengar bahwasanya didapur beliau dimasak setiap harinya 700 sampai 1000 potong roti.

Suatu kali datang ke rumah beliau seorang wanita dengan membawa sedikit makanan yakni sekitar setengah liter atau setengah mud dia ingin menghadiahkan kepada Syekh Abu Bakar bin Salim. Ketika sampai wanita tersebut kepada pembantunya Syekh Abu Bakar Bin Salim, pembantunya berkata, “ Apalah artinya hadiah yang kau berikan ini? Tidakkah kau tahu setiap harinya kami memasak hingga seribu potong roti untuk para tamu-tamu kami?” maka tidak disangka-sangka datang Syekh Abu Bakar bin Salim, beliau turun dari tangga terdengar suaranya turun menemui wanita tersebut. Langsung beliau berkata kepada wanita tersebut, ”Engkau datang ketempat ini wahai ibu karena Allah, dan engkau bermaksud kepada saya, engkau menuju kesaya karena Allah SWT. Berapa banyak langkah yang engkau langkahkan didalam perjalananmu menuju kemari, semuanya adalah pahala dari Allah. Dan engkau menyiapkan hadiah yang mulia ini. Berapa butir dari gandum yang engkau hadiahkan kepada saya? Tiap butirnya betapa besar pahalanya disisi Allah SWT.” Maka diangkat dan diterima hadiah tersebut oleh Syekh Abu Bakar bin Salim,  menjamu dan menghormati wanita tersebut. Dan dia keluar dari rumahnya dalam keadaan gembira.

Dan beliau pun menegur pembantunya dan berkata, “ Jangan sekali lagi kau berucap kalimat seperti tadi kepada siapa pun. Ketahuilah bahwasanya kami tidak menyaksikan yang memberi kepada kami semata-mata hanya Allah SWT. Apa pun yang sampai kepada kami melalui tangan hamba-Nya banyak ataupun sedikit pada hakikatnya pemberinya adalah Allah SWT.  Sesungguhnya Allah mengganjar mereka sesuai dengan niat mereka, apabila ikhlas karena Allah SWT”. Beliau juga mengatakan, “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, yang banyak nggak akan datang kepadanya.” Dan ini adalah lambang, warisan yang beliau bawa dari Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam riwayat hidup beliau, bahwasannya beliau mengagungkan, menghormati  nikmat Allah yang diberikan walaupun sedikit. Suatu ketika beliau melihat ada sedikit makanan terjatuh dilantai, dibiarkan begitu saja beliau angkat dan beliau berkata kepada istrinya Siti Aisyah,  “Hendaknya engkau mensyukuri menjaga nikmat yang dikaruniakan Allah SWT, sebab apabila nikmat tersebut diambil oleh Allah SWT  akhirnya tidak  kembali lagi.”

Ketika beliau memiliki kesungguhan kepada Alah SWT,  ingin memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah SWT maka beliaupun membawa pengaruh besar bagi lingkungannya dan bagi orang-orang di sekelilingnya. Hingga beliau mengatakan, “seandainya datang kepada saya seorang Badui yang tidak terpelajar, tapi dia punya kesungguhan ingin sampai dan mengenal kepada Allah SWT, dalam  sesaat akan saya buat dia sampai dan mengenal Allah SWT”.

Hingga disebutkan dalam riwayat bahwa pandangan seorang mukmin, apabila ia memandang, menatap wajah mukmin yang lain, menatap dengan penuh rahmat dan kasih sayang, maka ini adalah suatu pahala yang amat besar disisi Allah SWT.

Adapun apabila seorang mukmin memandang seorang mukmin yang lebih istimewa, dari pada wali-wali Allah SWT, maka ini adalah ramuan yang mujarab yang membuatnya dekat dengan Allah SWT.

Sehingga dikatakan para ulama, “Barang siapa tidak melihat wajah orang-orang yang beruntung bagaimana ia dapat menjadi orang yang untung”. Dan barang siapa menatap wajah orang beruntung dengan ikhlas karena Allah SWT bagaimana ia tidak untung, pasti untung.

Dikatakan oleh Syekh Abu Bakar Bin Salim, “Ini adalah karunia yang engkau dapatkan apabila engkau melihat kepada para awliya. Adapun apabila wali tersebut yang melihat engkau tak bisa dibayangkan karunia yang akan kau dapatkan.”

Pernah dalam suatu kejadian, ketika di sebuah negeri di musim paceklik lama hujan tidak turun, mereka sholat istisqo minta hujan sekali, dua kali tidak juga turun hujan sampai tiga kali. Ketika kebetulan datang satu orang ditempat tersebut melihat kesusahan manusia dan dia berkata sebelum orang-orang tersebut sholat istisqo, “Ya Allah demi apa yang ada didalam kepala saya ini maka saya meminta kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada manusia.” Dan  turun hujan saat itu juga.

Maka keesokan harinya dicari orang tersebut yang berdoa dan bertawasul yang berkatnya negeri jadi turun hujan. Ditanya , “memangnya apa yang ada didalam kepalamu hingga engkau bertawasul dengan apa yang ada didalam kepalamu?”. Dijawabnya, “sesungguhnya apa yang ada didalam kepala saya ini ada dua bola mata yang pernah melihat wajah Abu Yazid Al Bushtomi dengan berkat itu Allah turunkan hujan”.

Disebutkan bahwasanya Imam Umar al-Mukhdor bin Syekh Abu Bakar, putranya Syekh Abu bakar Bin Salim beliau berkata, “Saya tidak rela murid saya yang paling rendah kalau kedudukannya, bagiannya sama dengan Abu Yazid Al Busthomi. Saya tidak puas dan tidak ridho”. Kalau anaknya seperti ini bagaimana dengan sang ayah, Syekh Abu Bakar bin Salim?  Berapa banyak dengan berkat beliau Allah SWT mendamaikan antara orang lain, satu sama lain beliau mendamaikan orang dan orang juga damai berkat beliau.

Dan  di dalam hadis Nabi Muhammad SAW ada dalil yang membuktikan betapa besar pengaruh dari pandangan ini dan melihat penglihatan ini. Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW berkata, “kelak barang siapa seseorang berperang dijalan Allah SWT ditanya mereka satu sama lain,  ‘Adakah diantara kalian yang pernah melihat Rasulullah?’, mereka bilang, ‘ada, fulan,fulan dan fulan’”. Dan dengan itu mereka meraih kemenangan.

Kemudian datang generasi berikutnya ditanya, “apakah ada diantara kita orang-orang yang bertempur berjihad ini orang-orang yang pernah melihat manusia yang pernah melihat Rasulullah SAW? Maka dikatakan, “Ada fulan dan fulan pernah melihat sahabat Nabi Muhammad SAW”. Maka bertawasul dengan orang-orang tersebut dan Allah SWT memberikan kemenangan kepada mereka.

Kemudian juga datang lagi generasi berikutnya, ketika seseorang dalam waktu suatu jihad dan pertolongan lambat, mereka tidak berhasil meraih kemenangan karena terlalu lambat, hingga akhirnya bertanya diantara mereka, “Adakah ada diantara kalian yang pernah melihat orang yang pernah melihat orang yang pernah melihat sahabat yang pernah melihat Nabi Muhammad SAW?”.

Dan disebutkan juga dalam riwayatnya ada seorang ulama besar Imam besar dari Mekah yang datang kepada Sayidina Syekh Abu Bakar bin Salim dengan niatnya beliau dan akhirnya Allah SWT dengan berkat Syekh Abu Bakar Bin Salim diampunkan hal-hal yang terjadi antara dia dengan istrinya.

Ketika orang ini datang dengan niat ini kepada Syekh Abu Bakar bin Salim di Inat, baru masuk kamar baru berjumpa dengan Syekh Abu Bakar bin Salim langsung disambut oleh Syekh Abu Bakar,         “Selamat datang wahai Al Bakri, sesungguhnya saya telah memperbaiki segala macam kekacauan yang terjadi antara kau dengan istrimu, sudah beres semuanya”.

Kemudian disajikan kopi kepada mereka yang ada di majelis itu, kemudian diambil satu cangkir kopi oleh Syekh Abu Bakar bin Salim, dikeluarkan melalui jendela maka ketika kembali tangan tersebut cangkir kopi sudah tidak ada lagi entah kemana. Kemudian Syekh Abu Bakar bin Salim berkata, “Wahai Abdurrahim (Ulama Mekah ini) Insya Allah Allah SWT akan memberikan kebaikan kepada istrimu kepada keluargamu dan kelak ia akan mengandung seorang putra yang menjadi ulama besar di Mekah dan namakan anak tersebut Umar”.

Dan ketika dia pulang ke negerinya Mekah ia dapati istrinya baik,  berubah jauh, urusannya  beres semua, dan ia bertanya,” Apa yang terjadi hingga engkau menjadi baik seperti ini?”. Maka istrinya mengeluarkan cangkir kosong, “Tadinya dicangkir ini ada kopinya, datang beberapa waktu yang lalu seorang tua yang demikian indah membawakan saya cangkir berisi kopi ini, saya  minum langsung berubah saya punya hati”.  Maka dia lihat cangkir tersebut keika diperhatikan ia berkata, “ini adalah cangkir yang dipegang Syekh Abu Bakar bin Salim di Inat”.

Lalu dia bertanya, “kapan kau dapatkan cangkir ini dari orang tua tersebut?” lalu dijawab, “waktunya sekian, tanggal sekian, jam sekian,hari sekian.” Ketika diingat-ingat betul hari itu adalah hari ketika saya bersama Syekh Abu Bakar Bin Salim diruangannya. Ditanya, “seperti apa orang yang datang membawakan kopi?”.  Setelah disifati oleh istrinya ia berkata, “Dia adalah Syekh Abu Bakar Bin Salim”.

Kemudian dia berkata, “Demi Allah waktu yang engkau sebutkan itu aku bersama Syekh Abu Bakar bin Salim diruangannya di Inat sana dan di mengambil secangkir kopi dia keluarkan dari jendela dan keluarkan tangannya dari jendela itu dan kembali dalam keadaan kosong.

Diriwayatkan bahwasannya seorang hamba Allah SWT beliau memindahkan kursi singgasananya Ratu Balqis dari Yaman kehadapan Nabi Sulaiman.as. Dan singgasananya Ratu Balqis lebih besar daripada cangkir kopi. Dan wali dari umat Nabi Muhammad SAW lebih hebat dari wali dari umatnya Nabi Sulaiman.

Dan wanita tersebut melahirkan seorang putra dengan berkat Syekh Abu Bakar bin Salim bernama Umar bin Abdurrahim yang menulis kitab Ilmu fiqih yang luar biasa dan menjadi ulama besar di Mekah.

Dan kita sekarang di dalam perkumpulan majelis ini mari kita berdoa kepada Allah SWT dengan berkat Syekh Abu Bakar bin Salim, Allah SWT Insya Allah memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dan orang-orang yang punya hak yang besar terhadap kita sekalian, makhluk-makhluknya Allah SWT, mudah-mudahan Allah SWT membantu kita didalam memperbaiki hubungan kita dengan mereka semuanya. Dan mudah-mudahan Allah SWT memberikan keridhoanNya kepada kita sekalian agar Allah SWT mengampuni kita semua.

Alhamdulillah atas nikmat yang demikian besar ini, taufik yang Allah berikan kepada kita sekalian ini semuanya yang Allah SWT berikan dengan berkat shohib musnid  yang telah membantu terwujudnya acara hari ini. Dan keberkahan dari perkumpulan kita ini, Ya Allah akan kembali dan mencapai semua yang hadir dan lingkungan kita, kota kita, negeri kita dan seluruh kaum muslimin dimanapun mereka berada dengan berkat majelis ini. sebab yang kita minta yang kita panggil namanya tadi adalah Allah Yang Maha Agung Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, yang mana Allah SWT menciptakan segala-galanya.

Dan inilah kita datang kepada Allah SWT melalui pintu orang yang dicintai dan mencintai Allah SWT. Maka bersungguh-sungguhl ah berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita yang lampau. Dan Allah SWT menjaga kita dari perbuatan dosa dalam umur kita yang selanjutnya ini.  Dan orang-orang yang kini telah meninggal dunia,  yang tidak hadir ditempat ini, daripada anak kita, keluarga kita, orang tua kita, kerabat kita, semoga Allah SWT mengangkat derajat mereka dan mengampuni mereka sekalian.

Dan semoga Allah SWT mudah-mudahan memberikan keberkahan dalam sisa hidup kita ini dan memberikan kita khusnul khotimah. Kemudian setelah wafat mudah-mudahan Allah SWT mengumpulkan kita bersama wali-wali, bersama kaum sholihin, bersama Sayidina Syekh Abu Bakar Bin Salim, Ya Allah berdekatan dengan Nabi Muhammad SAW.

Mintalah kepada Allah Yang Maha Penyayang dan bersungguh-sungguhl ah dalam berdoa dan memanggil kepada Allah SWT. Dan memohonlah kepada Allah SWT dengan sesungguh-sungguhny a sebab Allah SWT menyukai orang yang bersungguh-sungguh didalam memohon kepada Allah SWT. Berdoalah dengan hati kita, lidah kita dan seluruh jiwa kita memanggil nama,  “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah…..”
Lanjut

Ceramah Habib Umar bin Hafidz di Kemang

Jakarta, Jum’at Maghrib, 01 Januari 2010, Kediaman al-Habib Umar Maulakhilah. q

Setelah pembacaan kitab al-Imam Abdullah bin Alwy al-Hadad, yakni an-Nashihah ad-Diiniyah pasal tentang keutamaan akhlak yang disampaikan oleh al-Ustadz  al-Habib Abdurrahman Ba-Surrah.

Alhamdulillah al-Habib Umar memanjatkan puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas keberadaan majelis-majelis yang mengikat kita dengan Rasul kita, Nabi Besar Rasulullah Muhammad SAW.

Apabila kita ingin mengetahui unsur-unsur yang mana, mengikat kita dengan Rasululah SAW, mengikat kita dengan manusia-manusia yang mulia disisi-Nya, yang merupakan bagian-bagian dari rukun iman ; iman kepada Allah, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada para Nabi dan Rasul Allah SWT, hal ini (pertemuan dan acara ini) adalah suatu bukti diantaranya dari pada bukti untuk mengikat manusia dengan orang-orang yang mulia, yang mempunyai hubungan dekat dengan Allah SWT.

Hal ini menunjukkan suatu bukti yang kuat, bahwasanya Allah SWT, tidak akan menerima dari hamba-Nya, amalan apa pun tanpa hubungan yang erat terhadap orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.

Akan tetapi jalinan ini, sebaik-baiknya jalinan yang kita jalin dengan orang-orang yang sholeh itu, apabila jalinan tersebut sesuai dengan apa yang diatur oleh Allah SWT.

Manusia seluruhnya, terutama orang-orang yang sudah Mukallaf, sudah Baligh dan berakal. Mereka semua manusia yang kita bicarakan ini, mereka punya jalinan hubungan, mau atau tidak mau, antara mereka satu sama lain.

Kebalikannya, yaitu kalau orang-orang kafir, punya hubungan, akan tetapi hubungan tersebut bukan hubungan yang diatur dan sesuai dengan aturan Sayidina Muhammad Rasulullah SAW. Dan mereka, jalinan yang mereka jalin tersebut adalah sesuatu yang dijalin dengan hubungan harta dunia, yang mana hubungan inilah yang membuat mereka semakin terpuruk .

Allah SWT menjadikan harta dan fasilitas, daripada hal-hal duniawi ini, Allah jadikan bagi mereka sebagai sarana bagi orang-orang yang bertakwa dan mendekat kepada Allah SWT.

Allah SWT jadikan itu semua untuk tunduk dan taat, sebagai sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT  dengan menjalankan syariat Allah SWT.

Maka orang-orang yang salah kaprah, mereka jadikan sarana tersebut, itu sebagai tujuan utama mereka hingga mereka terjerumus dalam hal-hal yang sebagaimana telah diterangkan di dalam al-Qur’an.

Allah SWT mensifatkan bagaimana mereka makan, yang Allah katakan dalam al-Qur’an, seperti makannya hewan-hewan ternak.

Allah SWT mensifatkan amalan-amalan mereka itu bagaikan sesuatu yang tertiup di langit, yang begitu saja akan hilang amalan tersebut (sia-sia).

Dan Rasulullah SAW telah mengisyaratkan, tentang orang-orang yang tidak pernah merasa puas dengan ikatan akhirat. Dia tidak merasa puas dengan jalinan yang memiliki kadar tinggi di sisi Allah SWT. Tetapi mereka lebih menjalin hubungan yang fana’ (semu), lebih merestui menjalin hubungan yang menjerumuskan mereka kedalam keterpurukan, maka jangan engkau anggap mereka, jangan engkau pedulikan mereka. Diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, “berpalinglah dari mereka.” Orang-orang tersebut yang mereka gapai hanyalah hal-hal yang merugi saja.

Mereka itu yang memiliki jiwa, memiliki ghurur di dalam hati-hati mereka. Akan tetapi mereka lupa akan kesucian ruh mereka, dan mereka menggadaikannya dengan sesuatu yang rendah. Dan karena keterpurukan inilah, sehingga muncul, bangkit berhala-berhala mereka. Berhala terbagi dua macam, yaitu berhala yang nampak wujudnya, yang mereka sembah-sembah dsb. Dan berhala yang merupakan kecenderungan mereka untuk menyembah berhala yang mereka inginkan, yang mereka mau, menuruti hawa nafsu mereka, dunia, harta dan lain sebagainya.

Begitu pula orang-orang yang bejat, yang ada di muka bumi ini yang jauh dari Allah SWT. Karena sebab mereka menjadi bejat dan rusak dikarenakan mereka itu, menelantarkan dan tidak mempedulikan hubungan yang tinggi derajatnya disisi Allah SWT. Akibat tidak memiliki hubungan yang mulia ini, maka mereka menjadi orang-orang yang bejat dan jahat.

Kemudian kalau hubungan yang salah kaprah ini, ditambah lagi dia menyombongkan diri kepada orang-orang yang mulia dan orang-orang yang sholeh, maka semakin terpuruklah derajat orang tersebut kepada derajat orang yang paling hina.

Karena itu mereka orang-orang yang tidak beriman dan orang-orang yang kafir meledek dan mencemoohkan para Nabi dan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an kisah mereka.

Karena itu Allah SWT menceritakan keadaan orang-orang yang ada didalam neraka itu nanti, mereka itu ketika menjerit minta dikeluarkan dari dalam api neraka, dari dalam siksa di karenakan rusaknya jalinan di dalam keadaan yang busuk dan buruk di dalamnya, janganlah kalian memanggil Aku untuk berbicara kepada-Ku, kenapa?, sebab dahulu ada sekelompok manusia, orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Allah SWT, akan tetapi kalian jadikan sebagai cemoohan dan ledekan.

Dan cemoohan kalian, kesombongan kalian membuat kalian lupa untuk mengingat kepadaKu, maka Aku jadikan orang-orang yang memiliki hubungan erat denganKu, Aku berikan mereka balasan yang mulia ,balasan yang tinggi dari Allah SWT. Dan itulah akibat yang kalian tertawakan.

Dan dalam hal inilah Nabi Muhammad SAW nabi kita, Beliau mengisyaratkan cukup seseorang dianggap sebagai pelaku kejahatan apabila dia meremehkan saudaranya yang muslim. Dijadikan meremehkan, merendahkan seorang muslim sebagai suatu kejahatan. Sebab semua makhluk yang ada dimuka bumi adalah ciptaan Allah SWT. Maka kita tidak boleh meremehkan salah satu ciptaan Allah SWT, melainkan sesuai apa yang disyariatkan oleh Allah SWT.

Padahal dari makhluk Allah SWT, yang tidak diizinkan kita hinakan, terus kita hinakan, maka kita berarti kita sama menghinakan Pencipta dari makhluk tersebut. Karena itu Nabi Muhammad SAW telah mengatur kepada kita sekalian, diatur bagaimana kita semua menjaga hati kita, batin kita dari menghinakan sesuatu yang diagungkan oleh Allah SWT

Justru Nabi Muhammad SAW memanggil kita untuk mencintai Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW, mencintai seluruh kaum mukminin yang awam maupun yang khusus, didalam Qur’an telah disebutkan penjelasan tentang hakekat ini.

Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an, sesungguhnya barang siapa murtad di antara kalian dari agamanya, maka Allah SWT akan menggantikan dengan sekelompok kaum, yang mana kaum tersebut dicintai Allah SWT dan mereka cinta kepada Allah SWT.

Dan Allah SWT disitu mengisyaratkan dalam ayat tersebut, mengisyaratkan tentang jalinan hubungan mereka, hubungan maknawi tersebut, antara sesama mereka. Ditandai antara sesama mereka merendah terhadap sesama kaum mukminin, akan tetapi mereka tampak agung, tetap terhormat dan berkharisma dihadapan orang-orang kafir. Ini adalah hubungan yang menghubungkan seseorang dengan Allah SWT.

Adapun hubungan mereka, dari pada amalan-amalan mereka itu, yaitu diantara hubungan mereka dengan amalan tersebut bagaikan mereka berjihad dijalan Allah SWT.

Setiap orang yang ikhlas mendirikan sholat, maka dia masuk kedalam jihad dijalan Allah SWT. Setiap orang yang ikhlas di dalam mendidik istrinya, keluarganya dan anak-anaknya, maka dia masuk dalam kategori berjihad dijalan Allah SWT.

Begitu juga, setiap orang yang berusaha, di dalam memberi kebaikan dan manfaat kepada kaum muslimin, maka dia dalam kesibukan tersebut berada dalam jihad dijalan Allah SWT.

Dan barang siapa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bermanfaat, sambil  mengagungkan ilmu tersebut dengan ikhlas, dia tuntut, maka dia termasuk dalam kategori berjihad dijalan Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda, barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berada dijalan Allah hingga ia pulang kembali kerumahnya. Dan kita berharap Insya Allah perkumpulan kita ini merupakan perkumpulan untuk menuntut ilmu sehingga kita mendapatkan karunia yang besar dari Allah SWT.

Barang siapa diantara kita yang niatnya sudah betul, setiap langkah kaki, yang dia langkahkan kemari adalah langkah kaki jihad fisabilillah.

Dan kebaikan yang dilakukan seorang mujahid itu digandakan, hingga 700 kali lipat. Kalau niatnya sudah benar, habis ini dia melaksanakan sholat Isya’, sholat Isya’-nya orang yang menuntut ilmu jihad fisabilillah itu digandakan hingga 700 kali lipat pahalanya. Kita baca Subhanallah pun 700 kali dilipat-gandakan. Ucapan tahlil Laa illaha’ilallah digandakan 700 kali juga pahalanya. Kita menjawab salam kepada saudara kita ketika berjumpa disini 700 kali lipat pula. Senyuman kepada saudara kita dimajelis inipun juga digandakan 700 kali lipat. Salaman dengan saudara muslim pahalanya uga digandakan 700 kali lipat. Ini bisnis dengan Allah SWT.

Tapi orang yang hanya terpaku kepada hubungan yang rendah, yang jarak pendek saja dia tidak perduli tentang hal ini.  Dan mereka orang-orang yang memiliki hubungan yang tinggi dimata Allah SWT,orang-orang yang mulia mereka tahu akan kemuliaan ini semua. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW menyatakan, sungguh saya mengucapkan satu kalimat, ”Subahanallah walhamdulillah wa laa ilaaha’ilallah wallahu akbar, lebih saya sukai dari segala sesuatu yang disinari oleh cahaya mentari.”

Maka apabila kita merenungkan keadaan para sahabat Rasulullah SAW, dikatakan mereka memiliki hubungan bathin yang amat erat dengan Nabi  Muhammad SAW. Apabila kita merenungi keadaan setiap orang dari keluarganya Nabi Muhammad SAW dan ahlil baitnya, kita dapati orang yang memiliki hubungan paling mulia diantara mereka yang memiliki hubungan jalinan erat dengan Nabi Muhammad SAW, coba perhatikan ini.

Dan kalau kita merenungkan keadaan umat Nabi Muhammad SAW ini, kita dapati kemuliaan mereka dibanding umat-umat yang lain karena mereka punya hubungan dengan Nabi Muhammad SAW. Maka kita harus mencek, memeriksa bagaimana hubungan kita dengan Beliau ini? atas dasar apa?, atas fondasi apa hubungan yang kita jalin ini ?

Yang mengingatkan saya, (al-Habib Umar bin Hafidz) untuk menceritakan tentang jalinan hubungan ini adalah karena saya dahulu pernah duduk pula ditempat ini. Duduknya saya sekarang ditempat ini adalah berkat hubungan batin yang saya jalin dahulu.

Sehingga atas dasar itulah, 18 tahun yang lalu, kita sampai di Indonesia sini, untuk memikul beban dakwah yang diperintahkan oleh guru saya (al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf-Mekkah) . Dan rumah pertama yang saya masuki di Indonesia adalah rumah. Waktu itu dirumah ini terdapat Al Habib Muhammad bin Umar bin Muhammad Maulakhelah, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. Beliau memiliki jiwa yang tawadhu, bercahaya terang benderang, di karenakan jiwa tersebut yang memiliki hubungan yang kuat dengan kaum-kaum yang sholeh dan mulia sebagai penggantinya.

Kita bersama beliau selama berhari-hari kemudian hingga kepada Al Habib Umar Bin Muhammad Maulakhelah putra beliau. Beliau menghadiahkan sesuatu dan mengatakan tahukah engkau mengapa aku menghadiahkan ini semua kepada engkau? Karena engkau telah membawakan orang-orang seperti ini ketempat ini, padahal di alam yang zhahir ini, di alam dunia, belum pernah dia berjumpa dengan beliau. Kemudian juga tidak ada kepentingan duniawi antara saya dengan beliau baik yang jauh maupun dekat, tidak ada. Tapi orang tersebut memiliki hubungan batin yang tinggi disisi Allah SWT, ruhnya suci, jiwa beliau demikian luhur, semangatnya tinggi.

Dia telah memahami, menelaah dari makna “hubungan” yang mulia ini mulai dari ayahnya dari Syekh/gurunya, yakni al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi,  dan berkat jalinan hubungan tersebut, berlanjut hubungan kita dengan putra-putra beliau, Al Habib Umar bin Muhammad Maulakhelah dan juga saudara beliau Al Habib Ali bin Muhamad Maulakhela ditempat ini selama bertahun-tahun dan hadir bersama kita dahulu Al Habib Hadi bin Ahmad as-Seqqaf hingga akhirnya mereka meninggal dunia dan ketahuilah hubungan kita dengan mereka, yaitu karena hubungan akherat yang digariskan Nabi Muhammad SAW bukan kepentingan duniawi.

Apabila hubungan tersebut sudah betul dan tulus karena Allah SWT, Insya Alah pertemuan berikutnya di-sana (akhirat), akan lebih panjang, lebih banyak lagi bersama beliau. Dan akan lebih indah dan lebih manis. Dan akan lebih lezat lagi. Dan akan lebih abadi serta lebih kuat lagi pertemuan ditempat itu, yang pertama pertemuan dialam barzakh, kemudian yang kedua pertemuan dibawah naungan Allah di hari kiamat kelak. Kemudian kita akan bertemu dibawah bendera yang dipegang oleh Nabi Muhammad SAW. Dan kita akan berjumpa dengan mereka di telaga Nabi Muhammad SAW, kemudian ditempat yang mulia disurganya Allah SWT. Ini adalah buah bagi orang yang hubungannya betul, benar dan ikhlas karena Allah SWT.

Didalam hadis Nabi Muhammad SAW, menyatakan ‘orang-orang yang saling mengasihi, mencintai karena Allah SWT’, ditempatkan besok dihari kiamat diatas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya dimana para Nabi-Nabi pun iri dengan kedudukan yang diberikan kepada mereka.

Kalau orang-orang memiliki jalinan hubungan-hubungan yang bawah, yang rendah, maka hendaknya ia memperbaiki dirinya tersebut dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang mulia (sholeh – mulia disisi-Nya).

Nabi Muhammad SAW menceritakan tentang hubungan yang mulia ini ada 3 hal, jika ia memiliki 3 hal ini ia meraskan manisnya iman, yang pertama apabila Allah dan Rasulnya ia lebih cintai dari apapun juga. Yang kedua ia cinta seseorang semata-mata cintanya karena Allah. Yang ketiga ia benci kembali kepada kekufuran, setelah ia diselamatkan Allah SWT, ia benci sebagaimana dirinya dibakar di dalam api.

Tapi hakekat menjalin hubungan yang sebenarnya ini, aturannya tidak bisa ditegakkan, kecuali harus kita tekuni, ada caranya, ada ilmunya yang diajarkan. Karena itu kami amat gembira sekali mendengar kabar bahwasanya disetiap hari Jum’at sore ini, ada pengajian yang diadakan ditempat ini. Dimana dalam pengajian tersebut pada Jum’at sore yang dibaca kitab yakni an-Nashihah ad-Diiniyah karya Imam Abdullah Al Hadad. Al Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, bercerita tentang Al Habib Abdullah Al Hadad bahwasanya “nashihah diiniyah” beliau (kitab tersebut), nasehat-nasehat dan kitab beliau ini membentangkan segala macam ilmu yang sanggup menolak setiap orang yang ingin melemahkan agama ini.

Beliau menyatakan kasih sayang beliau telah meliputi semua manusia, sehingga setiap orang yang ingin menempuh jalan ini, semua mendapatkan bantuan dan perhatian serta keilmuan dari beliau. Kita mendengar ucapan Imam Abdullah Al Hadad pada malam ini, barusan, begitu tentang rahmat dan kasih sayang kepada seluruh kaum muslimin, yang menyatakan orang yang tidak punya kasih sayang terhadap sesama tidak disayang oleh Allah SWT.

Wahai orang yang mencari cinta dan kasih sayang dari Allah SWT, sesungguhnya rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT tersebut amat besar dan amat luas, tapi engkau harus menyingkirkan segala sesuatu yang bisa memutus dari rahmat besar ini, yaitu sedikitnya rahmat dan kasih sayang kepada sesama kaum mukminin. Inilah yang membuat kita terputus.

Maka obati kita punya jiwa sebab kalau kita tidak memiliki rahmat dan kasih sayang bahkan kepada binatang pun maka kita pun akan terhalang dari rahmat Allah SWT.

Karena itu Nabi Muhammad SAW menyatakan kepada kita sekalian diceritakan bahwa ada seorang wanita yang dimasukan ke api neraka, akibat seekor kucing yang dia kurung hingga mati, dia tidak kasih makan juga tidak dilepaskan untuk  mencari makan sendiri.

Dan sebagian orang melihat Nabi Muhammad SAW mencium anak kecil, maka seseorang berkata, Ya Rasulullah, saya punya anak sepuluh orang dan tidak pernah mencium salah seorang dari mereka itu, maka Rasulullah SAW berkata, apa yang bisa saya lakukan jika Allah sudah mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu?

Suatu kali Nabi Muhammad SAW bersujud lama sekali sujudnya, sehingga para sahabat berfikir apa Rasulullah SAW telah meninggal dalam sujudnya, tapi ternyata Rasulullah SAW bangkit dan mengucapkan Allah Akbar bangkit dari sujudnya.

Setelah sujudnya yang panjang dan waktu keluar dari sholat dan salam, kemudian Rasulullah SAW melihat sahabat-sahabatnya heran, mengapa hari ini sujudnya Beliau lama sekali. Rasulullah SAW berkata, mungkin kalian heran, kalian menyangka saya sujud lama karena ada sesuatu yang terjadi. Ketahuilah tidak ada apa-apa, hanya tadi waktu saya sujud saya punya putra (cucunya) yaitu Sayidina Hasan itu dia naik keatas pundak, naik keatas kepala saya ketika sujud saya. Maka saya biarkan dulu sampai dia turun sendiri baru saya bangkit.

Sayidina Anas RA meriwayatkan, bahwasannya saya suatu kali bertemu dengan Rasulullah SAW sedang berbaring, dan Sayidina Hasan RA berada diatas dadanya Rasulullah SAW dan melakukan buang air kecil, maka Sayidina Anas ingin mengangkat sayidina Hasan, maka Rasulullah SAW mengatakan biarkan putraku jangan mengangkat putraku. Ketahuilah bahwasanya orang yang menggangu putraku, ini maka dia berarti telah mengganggu saya.

Rahmat dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW telah meliput alam semesta ini, telah meliput semua manusia akan tetapi orang-orang yang khusus dan istimewa mereka akan mendapatkan kasih sayang yang istimewa pula. Mudah-mudahan kita kebagian kasih sayang yang istimewa tersebut. Amin. Maka hendaknya kita mencari dan mempelajari, menginstropeksi diri kita sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW yang selayaknya kita pelajari.

Maka kita tanya diri kita bagaimana di tahun yang baru kita masuki ini, bagaimana kita akan melalui hari-hari dan malam-malamnya. Gunakan kesempatan kita, jaga waktu kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat dan terutama mendidik anak-anak kita, anak laki-laki, anak-anak perempuan, keluarga dan istri kita, kita didik yang betul.

Sebab kelak hubungan antara kita dengan anak-anak, hubungan dengan kita dengan pasangan kita, dengan suami kita, dengan istri kita, dengan keluarga kita dan lain sebagainya semuanya ini akan jadi rusak dan terputus akan terhapus, kecuali hubungan  yang sesuai dengan ajaran dan syariat yang Nabi besar Muhammad SAW. Karena itu diajarkan kepada kita sekalian, kepada hamba-hamba- Nya yaitu, sebuah doa : Rabbana hablanaa min azwajina wa dzuriyatina wa qurratul’ayunin waj alni muttaqiina imamma, “Ya Allah berikan daripada keluarga kami, anak istri kami, pasangan kami, anak-anak kami yaitu penyejuk mata kami (mata lahir dan batin) dan jadikanlah saya sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

Doa..
Lanjut

Mutiara nasehat Al Habib Umar Al Hafidz


Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah


Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin takut.

Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.

Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.

Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.

Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.

Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.

Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) , lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.

Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)

Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.

Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.

Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.

Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.

Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih- Nya.

Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.

Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.

Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.

Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.

Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.

Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).

Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.

Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.
Lanjut

Pengemis Buta Dan Rasulullah SAW

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu?
Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Lanjut

Aku pamit Wahai Guru Nan Lembut dan Damai

Siang hari sabtu 13 Juni 2009, detik detik pamitanku pada Guru, aku bersimpuh dihadapan Guru, samudera ilmu nan luas.., Guru yg sangat lembut dan berwibawa, seakan akan langit dan bumi sirna ketika aku memandang kelembutan dan kedamaian diwajahnya, berkata Anas bin Malik ra : Belum pernah kami melihat pemandangan yg lebih menakjubkan dari wajah sang Nabi saw (Shahih Bukhari)

Itu adalah dimasa Anas bin Malik ra, namun dimasaku aku menemukan cahaya keindahan itu, sebagaimana sabda Nabiku saw : "Maukah kalian kuberitahu siapakah yg mulia diantara kalian?, mereka adalah yg jika dipandang wajahnya membuatmu ingat pada Allah" (HR Bukhari pada Adabul Mufrad).

Kota Tarim, Hadramaut, Yaman adalah kota kedamaian, cuaca panas terik yg bisa mencapai 45 derajat celcius, namun terik matahari itu sirna dan sejuk dengan keberadaan para ulama shalihin berwajah sejuk dan damai,

Mereka lepas dari segala racun keduniawian, mereka lepas dari segala ketamakan, mereka lepas dari sifat iri dengki, sombong dan segala penyakit hati yg hina, mereka selalu membawa kedamaian dimanapun mereka berada, airmata yg selalu mengalir dalam doa dan munajat, telapak tangan yg selalu terangkat kehadirat Yang Maha Suci dan Maha Abadi, membuat tangan tangan mereka berhak diperebutkan dan diciumi untuk mendapatkan keberkahan ilahiah dari munajat dan doa mereka, Selalu berlemah lembut bahkan pada para pendosa dan hamba yg berlumur kesalahan..

Aku bersimpuh dihadapan Guru, wajahku menunduk dan sangat dekat diahadapannya, airmataku terus mengalir tak kunjung henti jika memandang wajah Guru..

Airmata cinta..
Airmata haru pd kelembutannya..
Airmata semangat bakti padanya dg jiwa dan raga..
Airmata rindu dan selalu ingin bersamanya..
Airmata penyesalan atas perbuatan yg mengecewakannya..

Kuangkat kepalaku lagi menikmati wajah terindah dalam hidupku..
Wajah yg membuatku ingat pada Allah..
Wajah yg selalu memancarkan cahaya khusyu dan damai..
Wajah yg selalu berusaha menyantuni semua hamba ilahi..

Sang Guru tersenyum lembut.., membuatku menunduk dan semakin deras airmataku mengalir haru dan asyik dalam cinta dan bakti padanya..

Seraya berkata lembut : Bagaimana keadaan Jamaah di Indonesia?

Aku terdiam dan tak mampu menjawab..

Seraya berkata lembut : Semoga mereka dalam kebaikan dan kedamaian..
Semoga semakin banyak yg bertobat dan kembali kepada keluhuran..

Aku menjawab : Amiin..
Hanya itu yg bisa keluar dari bibirku..

Sang Guru berkata lagi : Kabarkan padaku..

Aku menangis tersedu sedu dan berkata : Mereka semakin banyak.., mereka semakin banyak tuanku.., saya risau tuanku..

Sang Guru tersenyum.. terdiam.., lalu berbisik lembut : apa yg kau risaukan..?

Aku berkata : musuh semakin banyak… saya risau mereka akan merusak perjuangan kita..., saya tidak mau memerangi mereka.., saya selalu memaafkan mereka sebelum mereka meminta maaf.., namun saya risau pula karena mereka terus ada..

Sang Guru berkata lirih : kita kelompok damai yg tidak memusuhi.., semoga Allah menenangkan kita dari gangguan musuh..

Aku menunduk.. amiiin.. bisikku.., airmata berjatuhan semakin deras..,

wajah indah dan damai itu kembali melantunkan wejangan wejangan lembut dg suara lirih dan terkadang berbisik lembut..,

hingga akhirnya Guru berkata lembut dan pelahan : Adakah yg masih mengganjal dihatimu..?

Aku menunduk.. airmata telah berjatuhan membasahi permadani.., aku diam dan tak berani berucap.., dan beliau menatapku dg cermat dan risau.., dahi Guru berkerenyit tanda beliau benar benar menanti jawabanku.., maka aku berkata lirih.. : mereka dengki pada saya.. saya sedih mengapa mereka dengki pada saya.., dan kemajuan yg semakin pesat justru semakin memicu hal ini.., maka saya tidak tahu harus bagaimana..

Beliau tersandar dan tersenyum.. beberapa detik tanpa suara, lalu beliau melantunkan ayat ayat kejadian Nabi Yusuf as yg didengki oleh saudara saudara kandungnya.. lalu beliau berkata lirih : bahkan anak anak para nabi pun ada yg tidak selamat dari sifat dengki pada saudaranya..

Lalu beliau tersenyum.. senyum yg menghibur jiwa yg risau dan resah..,

Aku tercenung.. lalu beliau menyadarkanku dari lamunanku dg menghentakkan sebuah siwak kepangkuanku.., siwak dipukulkan kepangkuanku.. tanda kedamaian dan keakraban yg sangat menyejukkan..

Aku berkata lirih.. : apa yg harus saya lakukan..?

Maka Guru berbisik lembut : kita adalah kelompok damai, kita adalah kelompok yg selalu berdoa, kita berusaha dg naungan doa, kita bekerja dg naungan doa, kita beraktifitas dengan naungan doa..

Doa kepada Allah.. doa kepada Allah.., doa kepada Allah..

Aku menunduk.. mulai kurasa bahwa aku telah banyak menyita waktu Guru.., aku berbisik disela sela tangis…, saya pamit……

Guru menjawab : kutitipkan engkau pada Allah…..

Aku roboh dalam tangis dan kubenamkan wajahku dipangkuan Guru, aku akan kembali berjuang dalam dakwah.., aku akan berhadapan dg segala apa apa yg semoga Allah meringankan segala bebanku..

beliau menepuk bahuku dg akrab untuk menyemangatiku, akupun bangkit.., berdiri mundur tanpa berani membelakangi.. sambil terus menunduk tanpa berani memandang wajah damai itu lagi.., sampai ke pintu barulah kubalikkan tubuhku..

Disaksikan terik matahari dhuhur kutinggalkan kota Tarim..
Kota kerinduan, kota kedamaian.. kota tempat kekasihku dan Guru Muliaku berada, sang pembimbing diriku menju jalan keluhuran, keluhuran dunia dan keluhuran akhirat..

Pesawatku mendarat di Bandara Soekarno hatta pada Ahad …..

Oh Jakarta.., gemetar dan penuh risau kulangkahkan kaki turun dari pesawat menginjak Bumi Jakarta.., beban.. tanggung jawab.., massa.., kendala.., subhanallah..,

lalu aku membatin.. wahai nafas nafasku.. kau adalah ajang bakti cintaku pada Guru, padanyalah kubaktikan Jiwa ragaku, yg dengan itulah Matahari keridhoan Allah dan Rasul Nya terbit sepanjang waktu bagiku..

Ditulis oleh : Habibana Munzir bin fuad Al Musawa
www.majelisrasulullah.org
Lanjut