Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Manfaat Siwak

Sejarah Penggunaan Siwak (Salvadora persica)

Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabad-abad lalu. Manusia terdahulu menggunakan alat-alat kebersihan yang bermacam-macam seiring dengan perkembangan sosial, teknologi dan budaya. Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah kayu siwak atau chewing stick. Kayu ini walaupun tradisional, merupakan langkah pertama transisi/peralihan kepada sikat gigi modern dan merupakan alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini.

Miswak (Chewing Stick) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000 tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, oleh orang-orang Yahudi, Mesir dan masyarakat kerajaan Islam. Siwak memiliki nama-nama lain di setiap komunitas, seperti misalnya di Timur Tengah disebut dengan miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut miswak, dan di Pakistan dan India disebut dengan datan atau miswak. Penggunaan chewing stick (kayu kunyah) berasal dari tanaman yang berbeda-beda pada setiap negeri. Di Timur Tengah, sumber utama yang sering digunakan adalah pohon Arak (Salvadora persica), di Afrika Barat yang digunakan adalah pohon limun (Citrus aurantifolia) dan pohon jeruk (Citrus sinesis). Akar tanaman Senna (Cassiva vinea) digunakan oleh orang Amerika berkulit hitam, Laburnum Afrika (Cassia sieberianba) digunakan di Sierre Leone serta Neem (Azadirachta indica) digunakan secara meluas di benua India.

Meskipun siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam kultur dan budaya di seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran agama Islam dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Istilah siwak sendiri pada kenyatannya telah umum dipakai selama masa kenabian Nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 M. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat (dalam riwayat lain : setiap akan berwudhu’).” Nabi memandang kesehatan dan kebersihan mulut adalah penting, sehingga beliau senantiasa menganjurkan pada isterinya untuk selalu menyiapkan siwak untuknya hingga akhir hayatnya.

Siwak terus digunakan hampir di seluruh bagian Timur Tengah, Pakistan, Nepal, India, Afrika dan Malaysia, khususnya di daerah pedalaman. Sebagian besar mereka menggunakannya karena faktor religi, budaya dan sosial. Ummat Islam di Timur Tengah dan sekitarnya menggunakan siwak minimal 5 kali sehari disamping juga mereka menggunakan sikat gigi biasa. Penelitian yang dilakukan oleh Erwin dan Lewis (1989) menyatakan bahwa pengguna siwak memiliki relativitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan penyakit gigi meskipun mereka mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat.

Morfologi dan Habitat Tanaman Siwak

Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas.

Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak sendiri berasal dari bahasa arab ‘yudlik’ yang artinya adalah memijat (massage). Siwak lebih dari sekedar sikat gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay system (sistem antipembusuk). Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.

Kandungan Kimia Batang Kayu Siwak

Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :

Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.

Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.

Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.

Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri.

Siwak sebagai zat antibakterial

El-Mostehy dkk (1998) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin C, silika dan resin, juga cyanogenic glycoside dan benzylsothio-cyanate. Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat pada spesies tanaman ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan beberapa bakteri. Nitrat (NO3-) dilaporkan mempengaruhi transportasi aktif porline pada Escherichia coli seperti juga pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi transport aktif oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapyhylococcus aureus sehingga terhambat.

Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.

Penyusun (2005) di dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Difusi Lempeng Agar” menemukan bahwa ekstrak serbuk kayu siwak bersifat antibakterial sedang terhadap bakteri S. mutans dan S. aureus.

Siwak sebagai “oral cleaner device” (alat pembersih mulut)

Siwak sangat efektif sebagai alat pembersih mulut. Almas (2002) meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur (mouthwash) dan zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy). Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.

Sebuah penelitian tentang Periodontal Treatment (Perawatan gigi secara berkala) dengan mengambil sampel terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para peneliti dari King Abdul Aziz University Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal Treatment untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada treatment yang harus diberikan kepada masyarakat di negara lain, hal ini mengindikasikan rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap Periodontal Treatment.

Penelitian lain dengan menjadikan serbuk (powder) siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran serbuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kesehatan gigi secara sempurna adalah dengan menggunakan pasta gigi dengan butiran-butiran serbuk siwak, karena butiran-butiran serbuk siwak tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Hal ini yang mendorong perusahaan-perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan serbuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO (World Health Organization) turut menjadikan siwak sebagai salah satu komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan.

(Diadopsi dari Skripsi penyusun yang berjudul “PENGARUH EKSTRAK SERBUK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans DAN Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI LEMPENG AGAR), 2005, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
Lanjut

Maulid dalam Goresan Pena Ulama

Selain dengan menghayati sunnah Baginda Nabi Muhammad SAW, sudah menjadi kelaziman di dunia Islam dalam menyambut hari kelahiran beliau dengan membaca kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW yang terkandung dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama. Diantara kitab termasyhur yang menceritakan sejarah hidup beliau dari mulai detik-detik kelahiran hingga wafatnya, adalah kitab yang ditulis oleh Sayyid Ja’far Al Barzanji, Syaikh Muhammad Al Azab, Imam Wajihuddin Abdur Rahman bin Muhammad Ad Dibai’, Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, dll.

Masyarakat kita menamakan karya-karya tersebut sebagai kitab Maulid. Hingga kini berbagai kitab Maulid tersebar luas di berbagai pelosok dunia islam, tak terkecuali di negeri kita. Di masing-masing daerah ada kitab Maulid yang lebih dikenal atau lebih banyak dibaca dibandingkan dengan yang lainnya. Karena selalu digunakan, kitab-kitab itupun terus dicetak ulang dan tetap diminati orang. Ada yang tersendiri, satu kitab terdiri dari satu kisah Maulid, tapi adapula kitab yang berisi kumpulan beberapa kisah Maulid.

Kitab-kitab tersebut dibaca oleh masyarakat Islam dalam majelis-majelis tertentu, terutama dalam bulan Maulid Nabi. Sesungguhnya kitab-kitab tersebut ditulis dengan penuh keikhlasan oelh penulisnya. Tujuan mereka semata-mata untuk mengabadikan sejarah kehidupan Rasulullah SAW untuk generasi yang akan datang, agar Beliau terus dikenal, dicintai dan diteladani oleh ummatnya.

Karenanya, karya tulis mereka itu diterima dan diberkahi Allah SWT. Salah satu tanda bahwa suatu amalan diterima oleh Allah adalah, ia kekal di hati masyarakat. Begitulah kitab Al Barzanji, Ad Dibai’, Al Azab, Al Habsyi dan lain-lain, terus mendapat sambutan umat Islam dari masa ke masa. Bukan saja di kawasan Nusantara, melainkan juga hampir diseluruh dunia. Tradisi membaca kitab Maulid kemudian tidak hanya berlaku di majelis peringatan Maulid atau pada bulan Maulid, melainkan juga pada bulan-bulan lain dan dalam berbagai kesempatan.

Di dalam Musnadnya, Imam Ahmad menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud (yang diterima melalui perawi-perwai yang terpercaya), “Apa-apa yang dianggap haq (benar) oleh sebagian besar umat Islam, itulah yang diridhai Allah, dan apa-apa yang dianggap batil (salah) oleh sebagian besar umat Islam, ia batil (salah) disisi Allah.”

Ulama Penyusun Kitab Maulid

Terlalu banyak ulama yang menulis kitab-kitab yang berkenaan dengan Maulid, yang ditulis dama berbagai bentuk penulisan, baik prosa maupun puisi. Ada yang singkat, sedang dan adapula yang panjang lebar. Menurut Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitabnya Hawl Al Ihtifal bi Dzikr Al Mawlid an Nabawiy As Syarif, karena banyaknya ulama yang menulis itu, sulit untuk merincinya. Meskipun demikian, kata beliau selanjutnya, sebagian kitab itu memang lebih utama dibandingkan yang lain.

Berikut ini akan disebutkan sebagian saja dari mereka, terutama para huffaz al hadits (para penghafal hadits) dan imam-imam terkemuka. Meskipun hanya sebagian kecil dari seluruh ulama yang telah menulis tentang tema ini, sesungguhnya itu cukup menjadi petunjuk akal pikiran umat Islam akan keutamaan dan kemulian Maulid Nabi.

Iniliah nama-nama yang disbutkan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitabnya itu :

1. Al Imam Al Muhaddits Al Hafizh Abdurrahman bin Ali, yang terkenal dengan sebutan Al Faraj Ibnul Jauzi (wafat tahun 597 H), dengan kitab Maulidnya yang masyhur yang dinamakan Al ‘Arus. Kitab ini telah dicetak di Mesir berulang kali.

2. Al Imam Al Muhaddits Al Musnid Al Hafizh Abu Al Khaththab Umar bin Ali bin Muhammad, yang terkenal dengan sebutan Ibn Dahyan Al Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang satu kitab Maulid dengan tahqiq (editan) yang amat berfaedah, yang dinamakan At Tanwir Fi Maulid Al Basyir an Nadzir.

3. Al Imam Syaikh Al Qurra wa Imam Al Qiraat Al Hafizh Al Muhaddits Al Musnid Al Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Al Juzuri As Syafi’i (wafat tahun 660 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urf At Ta’rif bi Al Maulid As Syarif.

4. Al Imam Al Mufti Al Muarrikh Al Muhaddits Al Hafizh Imaduddin Imail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibnu Katsir telah menyusun satu kitab Maulid Nabi yang telah diterbitkan dan di tahqiq oleh Dr. Shalahuddin Al Munjid, kemudian kitab Maulid ini disyarahkan oleh Al Allamah Al Faqih As Sayyid Muhammad bin Salim Al Hafidz, mufti Tarim, dan diberi syarah pula oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, dan telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.

5. Al Imam Al Kabir wa Al Alim As Syahir Hafizh Al Islam wa Umdah Al Anam wa Marja’ Al Muhadditsin Al ‘Alam Al Hafizh Abdur Rahim bin Abdur Rahman Al Mishri, yang terkenal dngan Al Hafizh Al Iraqi (725-808 H). Maulidnya yang mulia dinamakan Al Maurid Al Hana yang telah disebutkan oleh banyak hafizh seperti Ibn Fahd dan As Suyuthi.

6. Al Imam Al Muahddits Al Hafizh Muhammad bin Abi Bakar bin Abdillah Al Qisi Ad Dimasyqi As Safi’i, yang terkenal dengan sebutan Al Hafizh bin Nashiruddin Ad Dimasyqi (777-842H ). Beliau adalah ulama yang terkenal dalam membela Ibn Taymiyah, bahkan menulis kitab dalam menjawab berbagai tuduhan atas Ibn Taymiyah, Beliau telah menulis beberapa kitab Maulid, diantaranya Jami’ Al Atsar fi Maulid An Nabiy Al Mukhtar dalam 3 Jilid, Al Lafzh Ar Raiq fi Maulid Khair Al Khaliq berbentuk ringkasan, Maurid Ash Shadiy fi Maulid Al Hadi.

7. Al Imam Al Urraikh Al Kabir wa Al Hafizh Asy Syahir Muhammad bin Abdur Rahman Al Qahiri, yang terkenal dengan sebutan Al Hafizh As Sakhawi (831-902 H), yang mengarang kitab Adh-Dhau’ Al Lami’ dan kitab-kitab lain. Kitab Maulid yang disusunnya adalah Al Fakhr Al ‘Alawi fi Maulid An Nabawi. Itu beliau sebutkan dalam kitabnya yang lain, Adh-Dhaul Lami’ (juz 8, hlm.18).

8. Al Allamah Al Faqih As Sayyid Ali Zainal Abidin As Samhudi Al Hasani, pakar sejarah dari Madinah Al Munawwarah (wafat tahun 911 H). Kitab Maulidnya yang ringkas dinamakan Al Mawarid Al Haniyyah fi Maulid Khair Al Bariyyah. Kitab ini ditulis dengan khat nasakah (salah satu gaya tulisan arab) yang cantik san bias didapat di perpustakaan-perpustakaan di Madinah, Mesir dan Turki.

9. Al Hafizh Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad Asy Syaibani Al Yamani Az Zabidi Asy Syafi’i, yang terkenal dngan sebutan Ad Dibai’. Beliau yang lahir pada bulan Muharram 866 H dan meninggal dunia pada hari Jum’at 12 Rajab 944 H, adalah salah seorang Imam di zamannya dan termasuk ulama puncak di kalangan ahli hadits. Beliau telah membaca Shahih Bukhari lebih dari seratus kali, dan pernah membacanya sekali dalam waktu enam hari.
Beliau telah menyusun maulid yang amat termasyhur dan dibaca diseluruh dunia, yakni Maulid Ad Dibai’. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki.

10. Al Allamah Al Faqih Al Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al Haitami (wafat tahun 974 H). Beliau adalah mufti mazhab Syafi’i di Mekkah Al Mukarromah. Beliau telah mengarang kitab Maulid yang sederhana (71 pasal) dengan tulisan khat nasakh yang jelas, bias didapat di Mesir dan Turki. Beliau memberinya judul Itmam An Ni’mah ‘Ala Al ‘Alam bi Maulid Sayyidi Waladi Adam.
Selain itu beliau juga menulis lagi satu kitab Maulid yang ringkas yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama An Ni’mah Al Kubra ‘Ala Al ‘Alam fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. As Syaikh Ibrahim Al Bajuri telah mensyarahnya dan dinamakan Tuhfah al Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.

11. Al ‘Allamah Al Faqih Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy Syarbini Al Khatib (wafat tahun 977 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman dengan tulisan yang kecil tetapi tetap dapat dibaca.

12. Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Asy Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al Harawi, yang terkenal dengan sebutan Al Mula Ali Al Qari (wafat tahun 1014 H), yang mensyarah kitab Al Misykat. Beliau juga mengarang kitab Maulid dengan judul Al Maulid Ar Rawi fi Al Maulid An Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dan dicetak di Mathba’ah As Sa’adah Mesir tahun 1400 H/1980 M.

13. Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Musnid As Sayyid Ja’far bin Hasan bin Adul Karim Al Barzanji, mufti mazhab Syafi’I di Madinah Al Munawwarah, ada perbedaan mengenai tahun wafatnya, 1177 H atau 1184 H. Beliau adalah penyusun Maulid yang sangat termasyhur, yakni Maulid Al Barzanji. Sebagian ulama menyatakan judul sebenarnya kitab ini ialah ‘Iqd Al Jauhar fi Maulid An Nabiy Al Azhar.
Ini merupakan Maulid yang paling luas tersebar dinegara-negara Arab dan Negara-negara muslim lainnya, di timur dan abarat. Malah dihafal dan dibaca oleh orang-orang Arab dan ‘Ajam pada pertemuan-pertemuan mereka.

14. Al ‘Allamah Abu Al Barakat Ahmad bin Muhammad bi Ahmad Al ‘Adawi yang terkenal dengan sebutan Ad Dardir (wafat tahun 1201 H). Kitab Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat syarah yang luas terhadapnya oleh Syaikhul Islam di Mesir, Al Allamah As Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al Baijuri atau Al Bajuri (wafat tahun 1277 H).

15. Al ‘Allamah As Syaikh Abdul Hadi Naja Al Abyari Al Mishri (wafat tahun 1305 H). Beliau mengarang kitab Maulid yang ringkas, masih dalam bentuk manuskrip.

16. Al Imam Al ‘Arif Billah Al Muhaddits Al Musnid As Sayyid As Syarif Muhammad bin Ja’far Al Kattani Al Hasani (wafat tahun 1345 h). Kitab Maulidnya, berjudul Al Yumn wa Al Is’ad bi Maulid Khair Al ‘Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345 H.

17. Al ‘Allamah Al Muhaqqiq Asy Syaikh Yusuf An Nabhani (wafat tahun 1350 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir An Nazhm Al Badi’ fi Maulid As Syafi’I, diterbitkan di Beirut berulang kali.

Disamping nama-nama ulama di atas, seorang ulama besar, yaitu Al Imam Al ‘Allamah Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, juga menyusun sebuah kitab Maulid yang berjudul Simthud Durar. Saat ini ktab Maulid sangat populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia pada umumnya disamping kitab Maulid Al Barzanji, yang memeng jauh lebih dulu tersebar di pelosok Nusantara.

Di Era sekarang inipun, Al ‘Allamah Al Habib Umar bin Hafidz juga telah menambah khzanah kepustakaan kitab Maulid Nabi dengan menuliskan sebuah kitab Maulid yang diberinya judul Ad-Dhiya’ Al Lami’.

Sumber : Majalah Alkisah No.07/Tahun VI
Lanjut

Maulid dalam Goresan Pena Ulama

Selain dengan menghayati sunnah Baginda Nabi Muhammad SAW, sudah menjadi kelaziman di dunia Islam dalam menyambut hari kelahiran beliau dengan membaca kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW yang terkandung dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama. Diantara kitab termasyhur yang menceritakan sejarah hidup beliau dari mulai detik-detik kelahiran hingga wafatnya, adalah kitab yang ditulis oleh Sayyid Ja’far Al Barzanji, Syaikh Muhammad Al Azab, Imam Wajihuddin Abdur Rahman bin Muhammad Ad Dibai’, Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, dll.

Masyarakat kita menamakan karya-karya tersebut sebagai kitab Maulid. Hingga kini berbagai kitab Maulid tersebar luas di berbagai pelosok dunia islam, tak terkecuali di negeri kita. Di masing-masing daerah ada kitab Maulid yang lebih dikenal atau lebih banyak dibaca dibandingkan dengan yang lainnya. Karena selalu digunakan, kitab-kitab itupun terus dicetak ulang dan tetap diminati orang. Ada yang tersendiri, satu kitab terdiri dari satu kisah Maulid, tapi adapula kitab yang berisi kumpulan beberapa kisah Maulid.

Kitab-kitab tersebut dibaca oleh masyarakat Islam dalam majelis-majelis tertentu, terutama dalam bulan Maulid Nabi. Sesungguhnya kitab-kitab tersebut ditulis dengan penuh keikhlasan oelh penulisnya. Tujuan mereka semata-mata untuk mengabadikan sejarah kehidupan Rasulullah SAW untuk generasi yang akan datang, agar Beliau terus dikenal, dicintai dan diteladani oleh ummatnya.

Karenanya, karya tulis mereka itu diterima dan diberkahi Allah SWT. Salah satu tanda bahwa suatu amalan diterima oleh Allah adalah, ia kekal di hati masyarakat. Begitulah kitab Al Barzanji, Ad Dibai’, Al Azab, Al Habsyi dan lain-lain, terus mendapat sambutan umat Islam dari masa ke masa. Bukan saja di kawasan Nusantara, melainkan juga hampir diseluruh dunia. Tradisi membaca kitab Maulid kemudian tidak hanya berlaku di majelis peringatan Maulid atau pada bulan Maulid, melainkan juga pada bulan-bulan lain dan dalam berbagai kesempatan.

Di dalam Musnadnya, Imam Ahmad menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud (yang diterima melalui perawi-perwai yang terpercaya), “Apa-apa yang dianggap haq (benar) oleh sebagian besar umat Islam, itulah yang diridhai Allah, dan apa-apa yang dianggap batil (salah) oleh sebagian besar umat Islam, ia batil (salah) disisi Allah.”

Ulama Penyusun Kitab Maulid

Terlalu banyak ulama yang menulis kitab-kitab yang berkenaan dengan Maulid, yang ditulis dama berbagai bentuk penulisan, baik prosa maupun puisi. Ada yang singkat, sedang dan adapula yang panjang lebar. Menurut Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitabnya Hawl Al Ihtifal bi Dzikr Al Mawlid an Nabawiy As Syarif, karena banyaknya ulama yang menulis itu, sulit untuk merincinya. Meskipun demikian, kata beliau selanjutnya, sebagian kitab itu memang lebih utama dibandingkan yang lain.

Berikut ini akan disebutkan sebagian saja dari mereka, terutama para huffaz al hadits (para penghafal hadits) dan imam-imam terkemuka. Meskipun hanya sebagian kecil dari seluruh ulama yang telah menulis tentang tema ini, sesungguhnya itu cukup menjadi petunjuk akal pikiran umat Islam akan keutamaan dan kemulian Maulid Nabi.

Iniliah nama-nama yang disbutkan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitabnya itu :

1. Al Imam Al Muhaddits Al Hafizh Abdurrahman bin Ali, yang terkenal dengan sebutan Al Faraj Ibnul Jauzi (wafat tahun 597 H), dengan kitab Maulidnya yang masyhur yang dinamakan Al ‘Arus. Kitab ini telah dicetak di Mesir berulang kali.

2. Al Imam Al Muhaddits Al Musnid Al Hafizh Abu Al Khaththab Umar bin Ali bin Muhammad, yang terkenal dengan sebutan Ibn Dahyan Al Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang satu kitab Maulid dengan tahqiq (editan) yang amat berfaedah, yang dinamakan At Tanwir Fi Maulid Al Basyir an Nadzir.

3. Al Imam Syaikh Al Qurra wa Imam Al Qiraat Al Hafizh Al Muhaddits Al Musnid Al Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Al Juzuri As Syafi’i (wafat tahun 660 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urf At Ta’rif bi Al Maulid As Syarif.

4. Al Imam Al Mufti Al Muarrikh Al Muhaddits Al Hafizh Imaduddin Imail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibnu Katsir telah menyusun satu kitab Maulid Nabi yang telah diterbitkan dan di tahqiq oleh Dr. Shalahuddin Al Munjid, kemudian kitab Maulid ini disyarahkan oleh Al Allamah Al Faqih As Sayyid Muhammad bin Salim Al Hafidz, mufti Tarim, dan diberi syarah pula oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, dan telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.

5. Al Imam Al Kabir wa Al Alim As Syahir Hafizh Al Islam wa Umdah Al Anam wa Marja’ Al Muhadditsin Al ‘Alam Al Hafizh Abdur Rahim bin Abdur Rahman Al Mishri, yang terkenal dngan Al Hafizh Al Iraqi (725-808 H). Maulidnya yang mulia dinamakan Al Maurid Al Hana yang telah disebutkan oleh banyak hafizh seperti Ibn Fahd dan As Suyuthi.

6. Al Imam Al Muahddits Al Hafizh Muhammad bin Abi Bakar bin Abdillah Al Qisi Ad Dimasyqi As Safi’i, yang terkenal dengan sebutan Al Hafizh bin Nashiruddin Ad Dimasyqi (777-842H ). Beliau adalah ulama yang terkenal dalam membela Ibn Taymiyah, bahkan menulis kitab dalam menjawab berbagai tuduhan atas Ibn Taymiyah, Beliau telah menulis beberapa kitab Maulid, diantaranya Jami’ Al Atsar fi Maulid An Nabiy Al Mukhtar dalam 3 Jilid, Al Lafzh Ar Raiq fi Maulid Khair Al Khaliq berbentuk ringkasan, Maurid Ash Shadiy fi Maulid Al Hadi.

7. Al Imam Al Urraikh Al Kabir wa Al Hafizh Asy Syahir Muhammad bin Abdur Rahman Al Qahiri, yang terkenal dengan sebutan Al Hafizh As Sakhawi (831-902 H), yang mengarang kitab Adh-Dhau’ Al Lami’ dan kitab-kitab lain. Kitab Maulid yang disusunnya adalah Al Fakhr Al ‘Alawi fi Maulid An Nabawi. Itu beliau sebutkan dalam kitabnya yang lain, Adh-Dhaul Lami’ (juz 8, hlm.18).

8. Al Allamah Al Faqih As Sayyid Ali Zainal Abidin As Samhudi Al Hasani, pakar sejarah dari Madinah Al Munawwarah (wafat tahun 911 H). Kitab Maulidnya yang ringkas dinamakan Al Mawarid Al Haniyyah fi Maulid Khair Al Bariyyah. Kitab ini ditulis dengan khat nasakah (salah satu gaya tulisan arab) yang cantik san bias didapat di perpustakaan-perpustakaan di Madinah, Mesir dan Turki.

9. Al Hafizh Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad Asy Syaibani Al Yamani Az Zabidi Asy Syafi’i, yang terkenal dngan sebutan Ad Dibai’. Beliau yang lahir pada bulan Muharram 866 H dan meninggal dunia pada hari Jum’at 12 Rajab 944 H, adalah salah seorang Imam di zamannya dan termasuk ulama puncak di kalangan ahli hadits. Beliau telah membaca Shahih Bukhari lebih dari seratus kali, dan pernah membacanya sekali dalam waktu enam hari.
Beliau telah menyusun maulid yang amat termasyhur dan dibaca diseluruh dunia, yakni Maulid Ad Dibai’. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki.

10. Al Allamah Al Faqih Al Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al Haitami (wafat tahun 974 H). Beliau adalah mufti mazhab Syafi’i di Mekkah Al Mukarromah. Beliau telah mengarang kitab Maulid yang sederhana (71 pasal) dengan tulisan khat nasakh yang jelas, bias didapat di Mesir dan Turki. Beliau memberinya judul Itmam An Ni’mah ‘Ala Al ‘Alam bi Maulid Sayyidi Waladi Adam.
Selain itu beliau juga menulis lagi satu kitab Maulid yang ringkas yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama An Ni’mah Al Kubra ‘Ala Al ‘Alam fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. As Syaikh Ibrahim Al Bajuri telah mensyarahnya dan dinamakan Tuhfah al Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.

11. Al ‘Allamah Al Faqih Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy Syarbini Al Khatib (wafat tahun 977 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman dengan tulisan yang kecil tetapi tetap dapat dibaca.

12. Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Asy Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al Harawi, yang terkenal dengan sebutan Al Mula Ali Al Qari (wafat tahun 1014 H), yang mensyarah kitab Al Misykat. Beliau juga mengarang kitab Maulid dengan judul Al Maulid Ar Rawi fi Al Maulid An Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dan dicetak di Mathba’ah As Sa’adah Mesir tahun 1400 H/1980 M.

13. Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Musnid As Sayyid Ja’far bin Hasan bin Adul Karim Al Barzanji, mufti mazhab Syafi’I di Madinah Al Munawwarah, ada perbedaan mengenai tahun wafatnya, 1177 H atau 1184 H. Beliau adalah penyusun Maulid yang sangat termasyhur, yakni Maulid Al Barzanji. Sebagian ulama menyatakan judul sebenarnya kitab ini ialah ‘Iqd Al Jauhar fi Maulid An Nabiy Al Azhar.
Ini merupakan Maulid yang paling luas tersebar dinegara-negara Arab dan Negara-negara muslim lainnya, di timur dan abarat. Malah dihafal dan dibaca oleh orang-orang Arab dan ‘Ajam pada pertemuan-pertemuan mereka.

14. Al ‘Allamah Abu Al Barakat Ahmad bin Muhammad bi Ahmad Al ‘Adawi yang terkenal dengan sebutan Ad Dardir (wafat tahun 1201 H). Kitab Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat syarah yang luas terhadapnya oleh Syaikhul Islam di Mesir, Al Allamah As Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al Baijuri atau Al Bajuri (wafat tahun 1277 H).

15. Al ‘Allamah As Syaikh Abdul Hadi Naja Al Abyari Al Mishri (wafat tahun 1305 H). Beliau mengarang kitab Maulid yang ringkas, masih dalam bentuk manuskrip.

16. Al Imam Al ‘Arif Billah Al Muhaddits Al Musnid As Sayyid As Syarif Muhammad bin Ja’far Al Kattani Al Hasani (wafat tahun 1345 h). Kitab Maulidnya, berjudul Al Yumn wa Al Is’ad bi Maulid Khair Al ‘Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345 H.

17. Al ‘Allamah Al Muhaqqiq Asy Syaikh Yusuf An Nabhani (wafat tahun 1350 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir An Nazhm Al Badi’ fi Maulid As Syafi’I, diterbitkan di Beirut berulang kali.

Disamping nama-nama ulama di atas, seorang ulama besar, yaitu Al Imam Al ‘Allamah Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, juga menyusun sebuah kitab Maulid yang berjudul Simthud Durar. Saat ini ktab Maulid sangat populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia pada umumnya disamping kitab Maulid Al Barzanji, yang memeng jauh lebih dulu tersebar di pelosok Nusantara.

Di Era sekarang inipun, Al ‘Allamah Al Habib Umar bin Hafidz juga telah menambah khzanah kepustakaan kitab Maulid Nabi dengan menuliskan sebuah kitab Maulid yang diberinya judul Ad-Dhiya’ Al Lami’.

Sumber : Majalah Alkisah No.07/Tahun VI
Lanjut

Biografi dan Arti Gelar Leluhur Alawiyyin

Lanjut

Sekilas Sejarah Salaf Al Alawiyin ( Bagian 6 )

TAHAP KEEMPAT

Tahap ini bermula dari abad keEmpatBelas H. hingga kini. Yakni, di dalam pasal ini kita akan berbicara tentang keadaan kita sekarang, agar dapat mem­buat perbandingan antara kita sendiri dengan perilaku dan sejarah salaf kita yang terdahulu.

Adalah sangat disayangkan bahwa tahap ini - dibanding dengan tahap-tahap sebelumnya - merupakan masa kemunduran dan kemerosotan di hampir semua bidang kehidupan. Bahkan kemunduran dan kemerosotan ini merupakan gejala umum yang menimpa seluruh dunia Islam.

Meskipun demikian, adanya perbedaan antara tahap pertama dengan tahap-tahap berikutnya memang benar-benar terasa. Makin jauh kereta sejarah berjalan, makin jauh kemunduran dan kemerosotan itu terasa, makin surut sinar keagung­an Alawiyin dan makin tenggelam ke dasar.

Keadaan demikian ini merupakan kebalikan bagi bangsa-bangsa yang 'hidup', yang makin lama makin maju [14]

Diagnosa dan Pengobatan

Faktor utama yang menyebabkan kemunduran itu adalah tidak adanya pendidikan yang benar dan tepat. Salaf kita dahulu adalah orang-orang yang amat ahli dalam bidang ini. Melalui jalur itu, mereka mengarahkan putra-putra mereka sesuai dengan apa yang mereka rencanakan dan mereka kehendaki, untuk rnemuaskan hati mereka. Per­guruan tinggi dan fakultas kaum Alawiyin adalah alam terbuka dan lingkungan hidup itu sendiri.

Adalah keliru apabila kita beranggapan bahwa lingkungan kita, sekolah-sekolah kita, majlis-majlis ta'lim kita sekarang merupakan sarana pendidikan yang di dalamnya disalurkan ajaran-ajaran seperti yang dahulu diajarkan oleh salaf kepada putra-­putra mereka. Bahkan kenyataan yang kita lihat adalah kebalikan dari apa yang dahulu dikerjakan oleh para salaf itu.

Kemerosotan akhlak di kalangan sementara Alawiyin telah mencapai derajat terendah, demiki­an pula surutnya ilmu pengetahuan, di samping tersebarnya penyakit-penyakit sosial.

Alhasil, kini kita sedang mengalami kemundur­an yang mengerikan, padahal jalan untuk meng­atasi semua itu adalah jelas, yaitu, kembali mengikuti cara hidup para salaf dalam ilmu, akhlak dan amal, sehingga semua tindakan yang kita lakukan sesuai dengan status kita di tengah masyarakat. Demikian pula halnya dengan kaum Muslimin secara keseluruhan. Sebab, "akhir umat ini tidak akan menjadi baik melainkan dengan cara-cara yang dahulu memperbaiki pendahulunya ", demi­kian ditegaskan oleh pemimpin besar umat ini, Rasul Allah saw.

Marilah kita usahakan. Dan Allah akan senan­tiasa menolong mereka yang membela dan me­negakkan ajaran-Nya.

PENUTUP

Demikianlah ceramah yang kami sampaikan di tempat yang penuh berkah, yaitu rumah kediaman Al Faqih AlMuqaddam di Tarim, pada saat yang penuh berkah, yaitu dasawarsa keTujuh dari abad keEmpatBelas Hijrah, dengan susunan yang diber­kahi. Insya-Allah. Kami haturkan kepada siapa yang bersedia menerbitkannya dengan beberapa catatan tambahan seperlunya.

Hanya kepada Allah kami bersandar dan ber­serah diri, serta mohon taufik demi mencapai kebenaran.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Nama Kitab / Pengarang

1. Aljauhar Assyaffaf fi Managib Assadah Al- Asyraf (Manuskrip) : Abdurrahman Al Khatib

2. Ghurar Albaha Addhawi fi Manaqib Assadah Bani Alawi (Manuskrip) : Muhammad Ali Kherid

3. Atthiraz Almu'lam - Assilsilah Al-A'idarusiyah (Manuskrip) : Syekh bin Abdullah AI-A'idarus

4. Catatan-Catatan Penceramah (Manuskrip) : Muhammad Ahmad Assyatthiri

5. Almasyra' Arrawiy fi Manaqib Assadah Al-kiram Bani Alawiy : Muhammad Abuba­kar Syilliy

6. Syarhul Ainiyah : Ahmad bin Zen AlHabsyi

7. Majalah Arrabithah Al-Alawiyah : Ahmad Abdullah As­saqaf


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki :
14. Kendati suasana umum amat suram -- pada tahap ini --­ namun ada juga tokoh-tokoh yang sangat menonjol dalam ilmu dakwah dan perbaikan sosial seperti Al-Imam Ali bin Muhammad Alhabsyi - Shohibul Maulid Simtud Dhuror(wafat 1333 H.), Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Atthas - (wafat 1334 H.), Allamah Abubakar bin Abdurrahman Syahab (wafat 1341 H.), Habib Muhammad bin Thahir Al Haddad (wafat 1319 H.), Habib Husein bin Hamid Al Muhdhar (wafat 1341 H.), dan banyak lagi tokoh yang lain. Kendati demikian hal ini sangat kurang memadai bila dibanding dengan banyaknya Alawiyin secara kese­luruhan yang memang cukup besar jumlahnya dan tersebar di berbagai penjuru.

Sumber : Sirah As-Salaf min Bani 'Alawy Al-Husainiyin, oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri,

Lanjut

Sekilas Sejarah Salaf Al Alawiyin ( Bagian 5 )

TAHAP KETIGA

Tahap ini bermula dan abad kesebelas H. hingga abad keempat belas H. Tokoh-tokoh abad­ ini dikenal dengan gelar " Habib ", seperti Habib Abdullah Al-Haddad, Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr Al Jufrie dan lain lain.

Tingkat ilmiah dan tasawuf tahap ini - secara umum - berada di bawah tingkat sebelumnya. Kendati demikian, telah muncul di atas pentas tokoh-tokoh yang cukup menonjol serta pribadi­-pribadi istimewa tidak kurang peranannya dari tokoh-tokoh kedua tahap sebelumnya. Tokoh utarna tahap ini adalah Habib Abdullah Al-Haddad (wafat 1132 H.) - sebagai tokoh puncak golongan Alawiyin masa itu, dan Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih (wafat 1163 H.).

Hijrah Kaum Alawiyin

Tahap ini ditandai dengan derasnya arus hijrah - melebihi masa-masa sebelumnya - ke India, pada abad kesebelas dan keduabelas H. yang ke­mudian berlanjut dengan hijrah ke negara-negara Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) pada abad­-abad berikutnya.

Adapun faktor yang mendorong Alawiyin melakukan hijrah adalah seperti telah disinggung pada pembahasan perkembangan alawiyin pada masa tahap pertama ditambah pula dengan perkembangan alawiyin di Hadramaut melebihi masa-masa sebelumnya. Sedemikian sehingga mereka yang berada di luar lebih besar dari mereka yang berada di tanah air sendiri, di mana di negeri mereka Hadramaut - kemungkinan yang ter­sedia tidak mampu memberi kepuasan bagi per­wujudan cita-cita mereka.

Oleh karena itu, wajarlah kiranya apabila mereka berhijrah, lalu menjadikan daerah baru itu sebagai tanah airnya. Dan tidak aneh pula apabila mereka kemudian menonjol, serta menunjukkan kemampuan-kemampuan luar biasa sehingga dapat menduduki posisi-posisi penting, memegang kendali perekonomian, kegiatan keagamaan bahkan kadang-kadang juga kekuasaan eksekutif. Kaum Alawiyin dalam hal ini juga diikuti oleh golongan-­golongan lain yang hijrah dari Hadramaut, baik mereka yang hijrah ke Timur Jauh, Afrika Timur, Hijaz (Saudi Arabia) dan lain-lain. Bahkan ada di antara mereka yang kemudian mendirikan keraja­an atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini. Seperti kerajaan Al ‘Aidarus di Surrat (India), Kesultanan Al-Qadri dan Al-Syekh Abubakar di Kepulauan Komoro (Comores), Al-Syahab di Siak, Al-Qadri di Ponti­anak dan Al-Bafagih di Pilipina.

Kerajaan-kerajaan tersebut mempunyai sejarah terinci, sebagian di antaranya dimuat oleh majalah Arrabithah Al-Alawiyah dan majalah Annahdhah Al Hadhramiyah. Kedua sumber ini bisa dijadikan bahan penelitian bagi mereka yang berminat untuk rnengkajinya. Melalui kaum Alawiyin, Islam ter­sebar luas di Indonesia, Malaysia dan Pilipina.

Hijrah kaum Alawiyin - dan saudara-saudara mereka lainnya dari Hadramaut - ke negara­-negara tetangga (negara-negara Arab di Timur Tengah), tidak banyak mempengaruhi tradisi, juga bahasa mereka, yakni di negara-negara yang ber­bahasa Arab, seperti Hijaz (Saudi Arabia), negara­-negara Teluk, Mesir, Syam (Suria) dan Sudan, kendati di tiga negeri terakhir ini jumlah mereka tidak banyak.

Adapun di perantauan luar Arabia, seperti negara-negara Islam tersebut di atas, maka dengan sendirinya mereka telah mengadakan hubungan kekeluargaan melalui pernikahan untuk memper­erat hubungan dengan penduduk setempat, karena memang sulit bagi mereka memboyong keluarga bersama mereka. Seandainya yang demikian ter­jadi (yakni rnembawa isteri-isteri dan anak-anak mereka) maka bahasa Arab akan lebih cepat dan lebih luas tersiar, sebagai bahasa Alqur'an yang dimuliakan oleh kaum Muslimin.

Akan tetapi, meskipun telah melakukan pembauran di daerah-daerah yang amat jauh itu, namun hingga waktu yang lama mereka masih rnemelihara tradisi dan mengenang tanah air, terutama Tarim, sebagai pusat ilmu dan pusat Alawiyin. Sekali-sekali mereka berkunjung ke negeri itu untuk ber­ziarah. Baru beberapa abad kemudian hubungan mereka dengan negeri asal berkurang, sehingga dengan mudah dipengaruhi oleh lingkungan di mana mereka hidup, untuk lanjutnya terlebur di dalam periuk acuannya, walaupun agama dan adat ­istiadat yang hak tetap terpelihara.

Bahkan pada masa sementara Alawiyin masih mengunjungi negeri asal, mereka telah mernbawa kebudayaan dan tradisi India, Jawa (Indonesia), dan daerah atau negara lain di mana mereka hidup. Hal ini tampak jelas pada awal abad ketigabelas H.

Adalah sangat aneh jika ada sementara tokoh Alawiyin yang menentang hijrahnya Alawiyin ke luar dan menganjurkan dengan gigih agar mereka tetap tinggal di negerinya (Hadramaut), terutama pada ketiga abad terakhir ini - namun tidak ada di antara para pemikir atau sesepuh yang berusaha secara sungguh-sungguh memberi jalan yang dapat menghalangi laju arus hijrah ini. Yaitu dengan menyebarluaskan kesadaran, menggalakkan per­tanian, membuat mereka merasa puas untuk hidup sederhana serta meninggalkan tradisi-tradisi yang merugikan. Kalau pun ada, orang-orang yang cukup memperingatkan hal demikian itu, amatlah sedikit. Di antara mereka adalah Habib Muhsin bin Alawi Assaqaf (wafat 1293 H.)

Adapun untuk tidak melakukan hijrah sama sekali dari Hadramaut - baik bagi Alawiyin mau­pun penduduk Hadramaut secara keseluruhan - memanglah merupakan hal yang tidak dimungkinkan oleh keadaan negeri itu sendiri sejak dahulu kala.

Para Munshib

Pada tahap perkembangan ini, lahirlah jabatan " Munshib". Jabatan itu sendiri dikenal sebagai "Manshabah". Sebagian besar Munshib Alawiyin muncul pada abad kesebelas dan abad kedua­belas H. Seperti Munshib Al-Attas, Munshib Al ‘Aidarus, Munshib Al-Syekh Abubakar bin Salim, Munshib Alhabsyi, Munshib Al Haddad, Al-Jufri, Al-Alawi bin Ali, Al-Syathiri, Al-Abu Numay dan lain-lain.

Tugas yang dilakukan oleh lembaga ini adalah tugas yang mulia dan bermanfaat, baik bagi agama maupun bagi sesama manusia. Pemangku jabatan ini - yang menerimanya secara turun temurun - selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang ber­sengketa - khususnya sengketa antara suku-suku yang bersenjaia - menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk kepada mereka yang memerlu­kan petunjuk dan bantuan bagi yang memerlukan bantuan.

Lembaga ini senantiasa memainkan perannya hingga kini (1948 M), sesuai dengan tujuan “Man­shabah" yang didirikan untuknya. Para Munshib tidak jarang mengorbankan harta dan kepentingan pribadi demi tugas dan jabatannya. Hanya saja generasi yang kernudian biasanya makin lemah bila dibanding dengan pendahulunya, baik di bidang keahlian, kemampuan, maupun kewibawaan, se­hingga secara berangsur, lembaga ini makin lama makin berkurang peranannya. Hal ini terutarna disebabkan kurangnya perhatian terhadap pen­didikan, baik ilrnu maupun keahlian, sesuai dangan, apa yang dahulu dikuasai oleh bapak-bapak mereka.

Golongan Alawiyin dan Politik

Pada pasal-pasal lampau telah dibicarakan sejarah perkembangan Alawiyin dalam berbagai bidang kehidupan pada ketiga tahap terdahulu. Kini hanya tinggal bidang politik.

Adalah merupakan prinsip yang rnenjadi pegangan tokoh-tokoh Alawiyin, mereka senantiasa menjauhkan diri dan tidak hendak mencampuri urusan politik, kecuali dalam hal-hal yang erat hubungannya dengan kepentingan dan maslahat umum. Yaitu dengan menggunakan pengaruh spiritual mereka, dan hanya pada batas-batas tertentu.

Disebutkan dalam biografi bahwa Al Muhdhar, Al-A'idarus. Al-A'dani, Zain Al-A'bidin Al-A'idarus, Al-Haddad dan lain-lain adakalanya mereka bergaul dengan para raja dan penguasa negeri serta meng­adakan surat rnenyurat dengan mereka. Para penguasa itu pun sering meminta nasihat dan pe­tunjuk dari tokoh-tokoh tersebut serta mengharap doa mereka. Namun, bila diteliti hubungan mereka dengan para penguasa nyatalah bahwa hubungan mereka tidak lebih daripada mengarahkan para penguasa agar melakukan kebijaksanaan yang sesuai dengan keadilan dan kepentingan umum.

Meskipun tokoh-tokoh Alawiyin mempunyai pengaruh spiritual yang cukup besar di kalangan suku-suku bersenjata, namun mereka tak pernah; mengeksploitasi pengaruh itu untuk tujuan-tujuan yang tidak layak.

Jika sekiranya mereka mengarahkan minat, demi kepentingan pribadi, atau berambisi meraih kekuasaan politis, dengan mudah mereka akan mencapai apa yang dinginkannya. Pada masa-masa itu seringkali peluang terbuka dan kesempatan ada, namun mereka tidak pernah memanfaatkan­nya, seperti dapat diketahui oleh mereka yang mengkuti dan mengkaji sejarah Hadramaut. Seperti pada peristiwa yang terjadi di antara Zain' Al-Abidin AI-A'idarus dengan Hasan bin Al-Qasim, Imam golongan Zaidiyah dari Yaman, peristiwa Husein bin Sahl dengan Syekh Awadh Gharamah, semua itu merupakan bukti-bukti nyata bagi apa yang dikemukakan tadi."[13]

Dalam hal ini, dapatkah kiranya dikemukakan alasan seperti telah disebutkan sebelum ini, tentang langkanya karya-karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, dan budaya, yaitu akibat sangat dalamnya pengaruh ajaran tasawuf dalam jiwa rnereka? Atau mungkin juga ada alasan-alasan lain yang hingga kini belum terungkap mengingat apa yang terjadi dalam praktek seringkali jauh ber­beda dengan dasar-dasar teori semata?

Bagaimana pun juga, jelaslah, bahwa Alawiyin tidak pernah berusaha, apalagi berpetualang, untuk mencapai keberhasilan dalam bidang politik baik untuk mendirikan kerajaan atau kesultanan, seperti dilakukan oleh saudara-saudara sepupu mereka yaitu Syarif-Syarif Mekkah, para Sultan di negeri Maghrib (Afrika Utara) dan para Imam di Yaman.

Adanya pribadi-pribadi tertentu dari kaum Ala­wiyin yang pernah berhasil mendirikan kerajaan atau kesultanan, seperti disebutkan sebelum ini, tidak dapat dijadikan dasar umum bagi cara hidup salaf dan tokoh Alawiyin. Kadang-kadang pengaruh situasi dan kondisi begitu kuat untuk menentukan sikap. Suasana demikian itulah yang membuat sementara Alawiyin mernegang tampuk pimpinan dan tidak dapat mengelak untuk menghindar dari jabatan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki :
13. Salah satu bukti yang menguatkan hal di atas adalah peristiwa di mana Sultan Badr bin Thuwairiq berniat mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerah­kannya kepada Al-Imam Husein bin Syekh Abubakar bin Salim (wafat 1044 H.). Namun Imam Husein menolak dan menekankan kepada Sultan ini untuk tetap memangku jabatannya, serta dia pun akan selalu membantu dan mendampinginya

Sumber : Sirah As-Salaf min Bani 'Alawy Al-Husainiyin, oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri,

Lanjut

Sekilas Sejarah Salaf Al Alawiyin ( Bagian 4 )

TAHAP KEDUA

Tahap ini bermula-seperti telah kami terang­kan pada awal ceramah - dari abad ketujuh H hingga menghampiri abad kesembilan H. Yakni dari masa Al Fagih Al Muqaddam hingga mendekati zaman Al-Habib Abdullah Al Haddad. Tokoh-tokoh tahap ini terkenal dengan gelar "Syekh". Apabila kita hendak membuat suatu per­bandingan antara tokoh-tokoh masa ini, yang di antara tokoh-tokohnya adalah para Imam seperti Al Faqih Mugaddam [5] , Assegaf [6] , Al Muhdhar [7] , Al-A'idarus [8] , Zain Al-A'bidin Al-A'idarus [9] dengannya tanpa di sini patut kita kemukakan secara obyektif, bahwa tokoh-tokoh tahap ini, dalam kenyataan­nya yang dibuktikan melalui karya dan hasil tulisan mereka, tidaklah mencapai hasil atau kualitas puncak, baik dalam penulisan karya-karya ilmiah maupun dalam syair. Bahkan tidak kita jumpai di antara karya mereka yang menunjukkan kejenius­an dan kehebatan dalam bidang-bidang ilmu dan kebudayaan yang dapat mengimbangi keunggulan mereka dalam bidang akhlak dan pengamalan agama.

Hal itu, tampaknya, disebabkan oleh pengaruh tasawuf yang mendalam, sehingga tokoh-tokoh tahap ini tidak begitu memperhatikan untuk ber­karya, baik dalam lapangan budaya maupun karya-­karya ilmiah (sebab tasawuf hanya memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa memberikan perhatian yang cukup besar terhadap segi-segi lahiriah - penerj.). Kalaupun ada, hal itu tidak banyak di lakukan. Itu pun tanpa memperhatikan pengguna­an bahasa yang indah, terpilih dan tersusun rapi dalam penampilan yang kuat. Dalam penulisan, tokoh-tokoh tahap ini sering menggunakan bahasa sehari-hari (atau dialek setempat) dalam meng­ungkapkan suatu hakikat, dan dengan cara apa adanya tanpa mempedulikan susunan atau gaya bahasa.

Adapun dalam bidang ekonomi, maka tahap ini telah mengalami peningkatan dibanding dengan tahap sebelumnya. Apabila tahap terdahulu kegiat­annya terbatas pada bidang pertanian saja, dengan menginvestasikan kekayaan mereka hanya dalam bidang ini saja, maka Alawiyin pada tahap ini - di samping pertanian - telah juga berinvestasi di bidang perdagangan. Mereka mendirikan pusat­-pusat perdagangan di pesisir Hadramaut, Aden dan Yaman. Mereka juga mengadakan perjalanan dagang ke India dan negara-negara lain, disertai dakwah menyiarkan agama Islam. Adapun per­jalanan ke Timur (negara-negara Asia Tenggara), untuk kedua tujuan tersebut, maka hal itu baru mereka lakukan kemudian (yakni sekitar abad kesebelas H. - penerj.). Dengan cara demikian mereka perluas daerah perdagangan serta kegiat­annya di dalam negeri dengan mengalirya arus barang dan uang, yang sebelumnya kegiatan mereka hanya terbatas pada bidang pertanian saja.

Perlu dikemukakan, meskipun tokoh-tokoh Alawiyin melakukan berbagai kegiatan ekonomi, namun berkat disiplin ketat, kekuatan iman dan takwa, mereka tetap tekun dalam menjalankan ibadah, membaca wirid-wirid khusus, dan ber­dakwah. Allah telah berkenan memberikan berkah waktu dengan membagi masing-masing kegiatan secara cermat, sehingga dapat melakukan semua kegiatan itu dengan sempurna, sesuai keseimbangan yang digariskan oleh syari'at.

Berbicara mengenai tingkat kesufian Alawiyin tahap ini, maka seperti telah dikemukakan pada awal ceramah. bahwa "Tarekat Tasawuf" baru dikenal di hadramaut pada awal abad ketujuh H. ketika Syekh Abu Madyan - tokoh ahli Sufi dari negeri magrib (Afrika utara) mengutus murid­nya yang tepercaya ke negeri Hadramaut untuk menghubungi Alfagih Al Muqaddam secara khusus dan beberapa ulama yang lain di negeri ini. Dalam pada itu, Syekh Abu Madyan juga mengirim "khirqah" tasawuf, berupa sehelai baju yang di­pakaikan oleh seorang guru (tasawuf) kepada muridnya, yang dengan demikian seorang guru berhak rnengarahkan pendidikan muridnya itu (secara tasawuf ).

Melalui seorang muridnya, sebagai perantara, Syekh Abu Madyan memakaikan "khirqah" itu kepada Al Faqih Al Muqaddam. Ketika Syekh Abu Marwan, guru Al Faqih Al Muqaddam mengetahui hal itu, ia menjadi marah, demikian juga dengan beberapa ulama Tarim yang tidak menyukai hal itu, sebab mereka khawatir akan kehilangan cita­cita dan rencana mereka untuk menokohkan Al Faqih Al Muqaddam sebagai pemimpin dan Imam. Ketika itu Alfagih Almugaddam belajar beberapa cabang ilmu dari Syekh Abu Marwan dengan acap­kali menyandang senjata, bahkan kadang-kadang sambil belajar ia meletakkan pedang menyilang di atas pahanya.

Orang-orang yang kurang senang dengan tidakan­ Al Faqih Al Muqaddam itu, mengira apa yang kelak akan dilakukan oleh Al Faqih Al Muqaddam merupakan salah satu tarekat yang hanya semata ­mata memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa menghiraukan urusan duniawi. Namun sesungguh­nya Alfagih lebih bijaksana serta berpandangan jauh dan luas. Ia tidak menginginkanm pengikutnya mengenakan gombal bertambal (muragga'at), mengembara tanpa arah sebagai "darwisy" (orang 'fakir') yang melakukan cara-cara aneh dalam men­dekatkan diri kepada Tuhan, atau menjalankan latihan-latihan ruhani (yang berlebihan). Al Faqih Al Muqaddam melarang pengikutnya bertaklid buta terhadap guru, khususnya dalam hal-hal yang ada kemungkinan bertentangan dengan Alkitab dan Sunnah.

Tarekat yang dianut oleh Alfagih Al Muqaddam dan pengikutnya adalah "Atthariqah Al-Alawiyah" yang dasarnya adalah mengikuti apa yang tersurat di dalam Alkitab (Alqur'an) dan Assunnah (ajaran Nabi), meneladani tokoh-tokoh Islam kurun per­tama (para sahabat dan tabi'in). Itulah yang di­nyatakan di dalam kitab-kitab mereka, ceramah dan nasihat agama, dan surat menyurat mereka antara yang satu dengan yang lain, serta dikuatkan pula oleh perilaku dan tindak tanduk Salaf Al­ alawiyin.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang tokoh Alawiyin yaitu Habib Abdullah Al Haddad dalam sebuah bait syair sebagai berikut :
Berpegang teguhlah engkau dengan Kitab Allah, ikutilah Sunnah nabi
Serta teladanilah para Salaf terdahulu Semoga Allah memberi engkau petunjuk-Nya


Demikian pula dinyatakan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi :
Demikian inilah amalan-amalan murni dari segala campuran
Ditambah ilmu dan keluhuran akhlak serta wirid-wirid yang cukup banyak


Dengan demikian jelaslah, golongan Alawiyin pengikut tarekat tasawuf, tetapi tasawuf mereka tidak menghalangi untuk melakukan tugas-tugas kehidupan, baik yang bersifat kemasyarakatan (sosial), keluarga maupun pribadi. Dalam segi tasawuf ini, Alawiyin menyerupai sahabat Nabi dan para tabi'in yang terkenal dengan kesufiannya namun tidak terhalang untuk berjihad menyebar­luaskan ilmu dan dakwah.

Kaum Alawiyin adalah penganut madzhab tasawuf yang berintikan sikap zuhud. Namun zuhud tidak menghalangi mereka untuk mengum­pulkan harta yang amat besar jumlahnya asal di­peroleh melalui jalan yang wajar dan halal, yang kemudian disalurkan untuk kepentingan umum, menjamu tamu, mendirikan masjid dengan men­cadangkan wakaf untuk pembiayaannya, menggali sumur untuk menyediakan air bersih yang sangat diperlukan, membuka dapur-dapur umur, dan mendirikan pondok pesantren untuk menyebar­luaskan ilmu dan dakwah ke jalan Allah. Meng­usahakan perdamaian dan memperbaiki hubungan antara golongan-golongan yang bersengketa, ber­sedekah dan membantu mereka yang memerlukan bantuan.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi penga­nut madzhab Syafi'i, namun mereka tidak ber­taklid kepada Syafi'i dalam segala hal. Dalam soal-­soal tertentu, mereka meninggalkan pendapat Syafi'i.

Kaum Alawiyin adalah penganut Al-Asy'ari (dalam soal-soal Tauhid), namun mereka juga meninggalkan faham Al-Asy'ari dalam beberapa hal, seperti mengenai sahnya taklid dalam soal iman.

Meskipun tokoh-tokoh Alawiyin sangat menga­gumi karya-karya Al-Ghazali serta falsafahnya dalam bidang akhlak dan tasawuf, namun mereka tidak mengikutinya secara bertaklid buta, melainkan memperhatikan kekurangan dan kelemahan AlGhazaIi, sehingga ada diantara tokoh mereka yang mengatakan. “Di dalam kitab Ihya' ada beberapa pernyataan seandainya dapat dihapus dengan air mata kami, kami akan melakukannya" [10].

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, sebagi­an mereka menyukai nyanyi dan lagu yang sehat tanpa disertai tindakan yang melangar akhlak, apalagi minum-minuman yang memabukan, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tarekat lainnya.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, sebagi­an mereka menyukai nyanyi dan lagu yang sehat tanpa disertai tindakan yang melanggar akhlak, apalagi minum-minuman yang memabukan, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tarekat lainnya.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, namun mereka tidak berkhalwat atau melakukan latihan­ latihan rohani secara berlebihan dan melampaui batas. Kalaupun ada, sangatlah jarang, dan mereka melakukannya dengan cara yang tidak merusak, baik fisik maupun mental, serta bertujuan semata mata mendidik jiwa, menghilangkan sifat-sifat kelemahan dan kekotoran rohani, sebagai usaha untuk menyucikan diri dari kungkungan nafsu angkara murka dan syahwat.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, namun tasawuf mereka tidak melarang tokoh-tokoh besar dan ulama mereka menduduki jabatan-jabatan penting: sebagai hakim, pemberi fatwa (Mufti), guru-guru besar, atau usahawan dalam bidang pertanian, perdagangan atau pertukangan, baik sebagai pimpinan maupun pelaksana lapangan.

Alfagih Al-Muqaddam - misalnya - bapak Ala­wiyin dalam tasawuf, mungkin kita tidak pernah mengira bahwa Alfagih bertindak mengurusi per­kebunan dan sawah ladangnya sendiri, mengatur rumah tangga dan keluarga, bahkan kadang-kadang berbelanja sendiri ke pasar. Kita mungkin tidak pernah rnembayangkan bahwa perkebunan Alfagih ini terdiri dari ribuan batang pohon kurma dan buah kurma hasil perkebunan itu - seperti di riwayatkan di dalam Silsilah Al A’idarusiyah - adalah sekitar 360 guci (zier). setiap guci berisi sekitar 1800 rathl (kati).

Penulis kitab Almasyra' Arrawiy bercerita tentang kekayaan Alhabib Abdullah bin Alawi.[11] Putera Al-faqih Al-Muqaddam (wafat 731 H.) Abdullah bin Alawi ini telah mewakafkan untuk masjid Bani Alawi di Tarim seharga 90.000 dinar. Ia mempunyai daftar tetap yang didalamnya tercatat nama orang-orang yang memerlukan bantuan, selain hadiah-hadiah yang diberikan kepada para penyair. Kendati demikian, ditinjau dari segi tasawuf dan ibadahnya, hampir tidak ada orang yang dapat menandinginya. Sedang dari ilmu, telah dicatat bahwa dia pernah berguru kepada seribu orang Syekh (guru) terdiri dari ulama-ulama Yarnan, Hadramaut, Hijaz, Irak dan Maghrib(Afrika Utara).

Demikian pula dengan Habib Assagaf, betapa­pun banyak kegiatan dan kesibukannya dalam rnengerjakan wirid, zikir dan rnengajar, namun memiliki perkebunan dan sawah ladang yang luas sekali serta meminta laporan tentang biaya-biaya yang dikeluarkan oleh, para pekerjanya, pada waktu antara maghrib dan isya', seperti diriwayatkan oleh Alkhathib, penulis kitab Aljauhar. Pohon­pohon kurmanya amatlah banyak, tidak sedikit di antara pohon-pohon itu yang ditanam dengan tangannya sendiri, sambil membaca surat YaSin pada setiap pohon yang ditanamnya.

Habib Al Muhdhar putra Assaqaf, adalah se­orang ulama besar yang diyakini sebagai seorang wali Allah, namun tergolong seorang yang cukup kaya, yang kekayaannya di antaranya adalah kapal-­kapal, tanah-tanah pertanian, kebun kurma dan lain-lain, seperti diterangkan semua itu di dalam surat wasiatnya.

Demikian pula dengan Imam Abubakar Al-A'dani, putra Habib Al-A'idarus (yang makamnya cukup terkenal di kota Aden) tergolong seorang hartawan di zamannya.Setiap hari memotong 30 ekor kambing untuk menjamu para tamu dalam berbuka puasa seperti dicatat oleh penulis biografi­nya. Al-A'dani telah melunasi hutang ayahnya setelah wafat sebanyak 30 ribu dinar. Al-A'dani wafat 914 H.

Demikian pula halnya dengan keturunan Abdullah bin Syekh Al-A'idarus ( keponakan Al­A'dani), yang banyak berhubungan dengan raja-­raja India. Kita akan kagum mempelajari riwayat hidup mereka, sebab di samping hasil karya ilmiah yang mereka cipta dan perbaikan sosial yang mereka lakukan serta ketekunan mereka di bidang ilmu dan ibadah, tokoh-tokoh ini mampu me­miliki kekayaan yang demikian besar, menandingi para raja dan pangeran. Sedang sebagian besar kekayaan itu, dinafkahkan untuk perbaikan sosial dan kepentingan umum.[12]

Jadi, faharn tasawuf yang dianut oleh golongan Alawiyin adalah ajaran tasawuf yang wajar dan sehat, tidak membawa pengikutnya menjurus kepada fanatisme dan jumud (kebekuan)atau menjurus kepada ekstrimisme dan ingkar. Ajaran tasawuf mereka merupakan sikap tengah yang memelihara keseimbangan dalam semua segi.

Perlu kiranya dicatat disini, bahwa apa yang dihubungkan kepada tokoh-tokoh Alawiyin berupa latihan amat banyak secara umum tidak mampu dilakukan manusia biasa serta bertentangan dengan naluri yang wajar, baik itu berupa tidak tidur siang malam untuk beberapa tahun lamanya berhenti makan dan minum berpuluh-puluh hari secara terus menerus, maupun mengkhatamkan pembacaan Alqur'an beberapa kali di waktu siang dan beberapa kali di waktu malam. Hal - hal semacarn itu hanyalah merupakan tindakan-tindakan khusus yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memang diberi kemauan dan kemampuan oleh Allah, di samping adanya kesediaan batin untuk melakukannya. Hal-hal semacarn ini memang tidak dapat dilakukan oleh selain mereka sebab sifatnya yang khusus dan merupakan pengecualian dan yang umum. Bahkan lingkungan mereka sendiri memandang hal itu sebagai sesuatu yang aneh, sehingga apabila ada yang menceritakannya, hanyalah sekadar menyatakan rasa kagum terhadap sesuatu yang luar biasa­.

Akan tetapi hal-hal semacarn itu boleh saja digolongkan sebagai "karamah" yang telah diuraikan oleh ulama (tasawuf) secara jelas. Perlu pula dicatat di sini, bahwa pernyataan­-pernyataan yang kadang-kadang diucapkan oleh beberapa tokoh Alawiyin tertentu - seperti di­catat oleh sebagian penulis sejarah terdahulu yang pada lahirnya bertentangan dengan prinsip-­prinsip syara', dan yang terkenal dengan sebutan syathahat adalah bukan karena mereka telah meyakini faham "wahdatul wujud" (panteisme), bukan pula untuk menyatakan kesombongan dan membanggakan diri, seperti dituduhkan oleh sementara orang. Sebab kebersihan pribadi dan kejujuran tokoh-tokoh itu cukup dikenal dalam sejarah. Pada hakikatnya, pernyataan-pernyataan itu dilontarkan pada saat mereka dalam keadaan ganjil dan luar biasa, di mana mereka berada dalam suasana tak sadar (keadaan fana), sehingga apa yang diucapkan itu dapatlah dimaafkan, dan tidak dapat dicatat sebagai pelanggaran yang mengakibat­kan dosa, apalagi kufur.

Betapa pun juga, tidaklah sepatutnya hal-hal seperti itu disiarkan, mengingat mereka sendiri pun tidak rnenyukainya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki :
05. Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad AlMuhajir. Al-Fagih Al Muqaddam adalah tokoh Ala­wiyin pertama yang menyebarluaskan ajaran tasawuf, setelah mengenakan "khirgah" (baju tasawuf) dari seorang tokoh ahli sufi, ialah Syekh Abu Madyan. Al Faqih Al Muqaddam menerima "khirgah" itu melalui seorang perantara, Syekh Abdurrahman bin Mu­hammad Al Muq'ad, seorang murid Syekh Abu Madyan. Syekh Abdurrahman diutus oleh gurunya khusus untuk tugas itu, tapi ia telah wafat di Makkah sebelum sempat menemui Al Fagih Al Muqaddam. Meski demikian, sebelum wafat ia telah melimpahkan misi itu kepada kawan yang dapat dipercaya ialah Syekh Abdullah Al Maghribi untuk menyampaikan "khirgah" kepada Al Fagih Al Muqaddam di Tarim, Menurut kitab AlMasyra 'Arrawiy, Al Fagih Al Mugaddam telah mencapai derajat Al Mujtahid Al Muthlaq di dalam ilmu Syari'at, - makam Al Quthbiyah di dalam bidang tasawuf. Gurunya ,Syech Muhammad Bamarwan mengatakan Al Faqih Muqaddam telah memenuhi syarat untuk menduduki jabatan AI-Imamah- Wafat 653 H.

06. Abdurrahman bin Muhammad (Maula Addawilah) bin Ali bin Alawiy bin Muhammad Alfagih Al muqaddam. Ulama besar yang telah mencetak berpuluh ulama, termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, saudaranya Al-Imam Alawi bin Muhammad, Imam Sa'ad bin Ali Madzhij, Syekh Ali bin Muhammad Al-Khathib dan banyak lagi. Bergelar Assagaf karena kedudukannya sebagai "pengayom", serta tingginya derajat ulama ini baik dalam ilmu maupun tasawuf. Sangat terkenal sebagai dermawan. Assagaf telah mendirikan 10 mesjid disertai wakaf untuk mencukupi kebutuhan mesjid-mesjid itu, Memiliki banyak kebunkebun kurma, namun segala kekayaan itu tidak sedikit pun memberatkan atau merisaukan hatinya, apalagi merintangi ketekunannya dalam ibadah. "Sehingga kalau seandainya dikatakan kepadaku," kata Assagaf, "kebun-kebun itu tidak ada yang berbuah, aku akan menari kegirangan“. Di antara kata mutiara Assagaf adalah sebagai berikut : "Manusia semua membutuh­kan ilmu, ilmu membutuhkan amal, amal membutuh­kan akal dan akal membutuhkan taufik. Semua ilmu tanpa amal tidak berguna. Ilmu dan amal tanpa niat adalah sia-sia. Ilmu, amal dan niat tanpa mengikuti sunnah adalah tidak diterima. Ilmu, amal, niat dan sunnah tanpa wara' (sangat hati-hati dalam menjalan­kan yang halal) adalah kerugian". Assaqaf wafat pada tahun 819 H.

07. Umar Al Muhdhar bin Abdurrahman Assagqaf. Imam zamannya dalam ilmu, tokoh dalam tasawuf. Terkenal dengan kemurahan hatinya. Rumahnya tidak pernab sunyi dari para tamu yang datang berkunjung baik untuk kepentingan agama maupun kepentingan duniawi - Menjamin nafkah beberapa keluarga yang tak mampu dan mendirikan tiga buah mesjid. Umar Al Muhdhar terkenal dengan doanya yang amat mustajab. Wafat 833 H­

08. Abdullah bin Abubakar bin Abdurrahman Assagaf terkenal dengan gelar A1-A'idarus (AlAydrus), Ia berusia 10 tahun, ketika ayahnya wafat dan langsung diasuh oleh paman­nya, Umar Al Muhdhar, yang sekaligus bertindak se­bagai gurunya. Ia telah mempelajari ilmu-ilmu Syari'at, Tasawuf dan Bahasa. Ketika AI-Muhdhar wafat, ia ber­usia 25 tahun. Tokoh-tokoh Alawiyin telah sepakat untuk mengangkat Imam Muhammad bin Hasan. Jamal Al-Lail sebagai Naqib, namun menolak dan menyarankan agar mengangkat Abdullah Al-A'idarus ini untuk menggantikan pamannya. Ulama besar yang bertindak menyebarluaskan ilmu dan dakwah, tekun dan mengisi waktunya dengan ibadah, menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam kitab Almasyra' dinyatakan: "Dalam kedermawanan bagaikan seorang amir, namun dalam tawadhu' bagaikan seorang fakir". Sangat senang menampakkan nikmat Allah atas dirinya dengan mengenakan pakaian-pakaian indah, kendaraan yang megah dan rumah yang bagus. Wafat 865 H.

09. Ali Zain Al-Abidin bin Abdullah bin Syekh Al ‘Aidarus, adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya adalah ayahnya sendiri. Ia bertindak sebagai murid dan pelayan ayah­nya, tidak pernah berpisah selama ayahnya hidup. Setelah ayahnya wafat, Zainal Abidin menggantikan ayahnya itu sebagai Naqib, mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran demi kepentingan masyarakat umumnya, dan Alawiyin khususnya. Zain Al-Abidin sangat dihormati dan disegani oleh Sultan, di mana Sultan tidak memutuskan sesuatu sebelum terlebih dahulu meminta pendapat Imam ini, bahkan tidak jarang Sultan datang ke rumahnya untuk sesuatu ke­pentingan, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Akibat kedudukan yang tinggi ini, Zain Al-Abidin menghadapi banyak lawan, namun selalu menghadapi mereka dengan cara yang bijaksana. sehingga akhirnya lawan berubah menjadi kawan. di samping sebagai guru besar dalam ilmu-ilmu Syariat, Tasawuf dan Bahasa, ia menguasai soal pertanian dan bidang -bidang profesi lain; memberi petunjuk kepada mereka yang memerlukan petunjuk, bahkan di penghujung hayatnya ia sering mengobati mereka yang menderita penyakit, sebagai tabib. Wafat 1041 H

10. Ulama telah merasa puas dengan karya-karya Al-Ghazzali dan Annawawi sehingga tidak merasa perlu untuk menyusun kitab-kitab sendiri baik dalam ilmu Syari'at, Tasawuf maupun Akhlak. Mereka mencurah­kan tenaga dan fikiran untuk mengamalkan dan me­nyebarluaskan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab itu.

11. Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al Faqih Al Muqaddam. Setelah menyelesaikan pendidikan pada ayah dan datuknya, Al Faqih Almugaddam, ia meneruskan pendidikannya ke Yaman dan Hijaz untuk berguru kepada ulama-ulama besar di kedua negeri itu Kemudian bermukim di tanah suci untuk menyebarluaskan ilmu dan mengajarkanya. Karena mengajar dikedua kota suci Makkah dan Madinah ia digelari Imam Al-Haramain dan Mujaddid abad kedelapan Hijriah. Ketika itu datang berita wafatnya Imam Ali bin Alwi (sudara kandungnya) dimana tokoh-tokoh Hadramaut telah menulis sepucuk surat ta’ziah dan sekaligus memintanya kembali pulang ke kampung halaman untuk memimpin umat dan menggantikan kedudukan Almarhum sebagai da’i dan mengajarkan berbagai ilmu kepada mereka yang menuntutnya. Berpuluh murid telah dicetak menjadi ulama besar termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, Ali, Ahmad dan Muhammad. Wafat di Tarim, pada tahun 731 H­

12. Alawiyin telah berjuang-bersama seluruh rakyat melawan portugis yang datang menyerang pesisir Hadramaut dengan tujuan menduduki negeri itu pada tahun 1097 H. Berkat kegigihan mereka telah berhasil mengusir kaum kolonial , Kendati telah gugur para syuhada dalam peristiwa ini .

Sumber : Sirah As-Salaf min Bani 'Alawy Al-Husainiyin, oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri,

Lanjut

Sekilas Sejarah Salaf Al Alawiyin ( Bagian 3 )

TAHAP PERTAMA

Tahap pertama sejarah perjalanan hidup Alawi­yin ini memiliki keistimewaan sebagai tahap pembangunan kehidupan baru dan pembauran dengan masyarakat baru di negeri baru. Pada tahap ini, tokoh-tokoh Alawiyin telah berhasil mempengaruhi masyarakat Hadramaut serta menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka. Tokoh-Tokoh Alawiyin dalam kehidupan sehari-hari benar-benar mirip dengan kehidupan tokoh-tokoh sahabat Nabi di kurun Islam pertama, baik dalam ilmu, akhlak maupun ibadah.

Ketika baru berada di tengah rnasyarakat Hadramaut. Al Muhajir dihadapkan dengan suasana jihad yang tak terelakkan. Al Muhajir ketika itu harus melawan golongan ibadhiah", baik dengan lisan maupun dengan senjata, sehingga Al Muhajir berhasil menyebar luas ajaran” Ahlus sunnah seperti jelas di uraikan didalam kitab-kitab sejarah yang menerang riwayat hidup (Biografi) Al Muhajir. Kemudian, putra-putranya dan keturunannya meneruskan langkah itu, memimpin masyarakat hadramaut dalam bidang ilmu, budaya dan ekonomi. Bahkan dalam bidang politik yang bersifat mengawasi dan membimbing (para penguasa) demi tercapainya kepentingan umum, tanpa berambisi memegang tampuk kekuasaan secara praktis.

Tokoh-tokoh Alawiyin pada tahap ini, ada­lah Imam-Imam mujtahid (dalam arti tidak mengikuti atau terikat dengan salah satu mazhab) seperti diriwayatkan oleh beberapa ulama, yang masing-masing tokoh terkenal dengan gelar "Imam" seperti Imam Al Muhajir, Imam Alawi bin Ubaidillah dan lain-lain.

Namun, ijtihad mereka seringkali bersesuaian dengan Imam Assyafi'i dalam bagian terbesar madzhabnya Adapun aspek-aspek aqidah mereka, sama seperti para leluhur mereka sampai Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Tokoh-tokoh Alawiyin ini telah membawa sebagian kekayaan mereka dari negeri asal, yaitu Bashrah (Irak). Kekayaan itu amat besar jumlah­nya sehingga mereka dapat membeli tanah-tanah, kebun-kebun, bangunan-bangunan, dan sebagainya di negeri ini. Kekayaan itu juga dikembangkan di dalam bidang pertanian yang menjadi usaha pokok dan sumber utama Alawiyin tahap itu.

Dalam keadaan demikian, mereka senantiasa teringat karnpung halaman dan sesekali timbul kerinduan ketika mengenang masa lampau di negeri Irak, sehingga mereka rnembuat lambang-lambang dengan narna taman-taman, kebun dan pesanggrah­an yang telah ditinggalkannya itu.

Dalam tahap ini setiap Alawi menampilkan pribadi yang mulia dengan beberapa keistimewaan berupa ilmu. akhlak. ibadah dan. wibawa, sehingga keluarga ini dikenal dan dibedakan oleh masyara­kat karena ciri-ciri kemuliaan itu.

Ilmu Tokob-Tokoh Alawiyin

Ilmu yang dikuasai tokob-tokoh Alawiyin tahap ini meliputi: Tafsir Hadist, Fiqih, Sastra/ Bahasa, metode berdebat dan berdiskusi, serta ilmu pengetahuan lain, yang telah berkembang pesat dewasa itu termasuk tasawuf. Hanya saja ilmu tasawuf ini memperoleh perhatian lebih dalam dan lebih khusus pada tokoh-tokoh tahap kemudian. Tokoh-tokoh tahap ini memperhatikan tasawuf sebagai amalan praktis dan buhan sebagai teori ilmiah semata.

Akhlak dan Budi Pekerti Alawiyin

Sifat yang paling menonjol bagi seorang Alawi tahap ini adalah: kedermawanan, dan keberanian (sebagai ciri umum keturunan bani Hasyim). Sifat ini diimbangi dengan tawadhu' rendah hati), di samping tegas dan tidak kenal kompromi dalam mempertahankan kebenaran. memperhatikan bidang keperwiraan, menggunakan alat-alat perang dan menyandangnya dalam kesempatan-kesempat­an tertentu.

Sifat terakhir ini kernudian berubah pada tokoh-tokoh Alawiyin generasi berikutnya, yang dalam menggunakan alat-alat perang dan menyandangnya dianggap menyalahi tradisi dan bertentangan dengan sopan santun hal ini berlaku sejak Alawiyyin mengikuti “Terakat Tasawwuf “ pada abad ketujuh ketika Imam Al Faqih Al Muqoddam menerima “Khirqah” (Baju Tasawwuf) dan Syekh Abu Madyan, tokoh sufi dari negeri magrib (Afrika utara) . Sejak itu Al Fagih Al Muqoddam menjauhi penggunaan senjata untuk menekuni ilmu dalam suasana damai.

Hubungan Alawiyin dengan Dunia Luar

Adalah merupakan watak dan tabiat seorang Alawi, tidak pernah merasa tentram di satu daerah tertentu, untuk kemudian tinggal selama hidup. Hidup bebas dan pergi, kemana saja untuk mencari daerah-daerah baru merupakan watak dan cirinya. Satu daerah saja dipandang sempit dan tidak memberi kepuasan untuk mengembangkan cita-­cita dan mencapai tujuannya.

Apalagi di negeri seperti Hadramaut, negeri ini akan memaksa penduduknya berhijrah karena sempitnya bidang ke hidupan. di samping terjadi­nya pergolakan dan pertumpahan darah antara kabilah-kabilah yang selalu berkecamuk. akibat tidak adanya pemerintahan yang kuat dan stabil.

OIeh karena itu, seorang Alawi - seperti hal­nya penduduk Hadramaut pada umumnya - meng­adakan perjalanan ke negeri-negeri tetangga, seperti: Yaman, Hijaz, Syam dan. Irak, baik demi tujuan budaya, ekonomi, maupun agama.

Pada mulanya, Alawiyin seringkaii hilir mudik mengunjungi Irak -- negeri asal mereka – untuk bertemu kembali dengan sanak keluarga. me­meriksa harta kekayaan yang ditinggalkan, bahkan hingga kini keturunan Imam Muhammad bin Isa Ar Rumi (saudara sekandung Al Muhajir) terus juga berkem­bang di negeri ini.

Sesuatu yang patut digarisbawahi di sini, ialah bahwa tokoh tokoh Alawiyin yang menonjol pada tahap perkembangan, ini terdiri dari keturunan Imam Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi, yakni Bashri, Jadid dan Alawi. Kendali pimpinan dipegang oleh keturunan kedua orang yang pertama, yaitu Bashri dan Jadid. Namun keturunan mereka kemudian terhenti dan tidak berkelanjutan, yang pada abad ketujuh H. tidak ada lagi seorang pun dari keturun­an mereka. Sayang ahli-ahli sejarah tidak meng­hidangkan untuk kita jasa dan peran yang pernah dimainkan oleh keturunan Bashri dan Jadid, kecuali nama beberapa tokoh saja yang dicatat, yang di antaranya adalah Imam Ahli Hadits Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Jadid (wafat 620 H.) dan Imam Salim bin Bashri (wafat 604 H.)

Adapun tokoh-tokoh sesudah waktu tahap ini hanya­lah dari turunan Alawi bin Ahmad bin Isa Ar Rumi (dari Alawi inilan datang sebutan Alawiyin bagi ke­turunaannya). Meskipun demikian, silsilah keturun­an Alawiyin seluruhnya selalu melalui lima rangkai­an nasab saja, yang menunjukkan bahwa Alawiyin baru berkembang dan bercabang setelah abad ke enam H. Rangkaian silsilah ke lima orang itu ada­lah: Muhammad bin Ali bin Alawi bin Munammad bin Alawi (bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir).

Di antara putra-putri Muhammad bin Ali bin Alawi (terkenal dengan gelar Shahib Mirbath, wafat 556 H.) yang berketurunan hanyalah dua orang putranya, yakni Imam Alawi, paman (saudara ayah) Al Faqih Al Mugaddam, dan Imam Ali bin Muhammad, ayah Al Faqih Al Muqaddam. Pada kedua orang inilah tercakup seluruh nasab Al-Alawiyin, seperti tercakupnya nasab seluruh Al-Husainiyin pada Imam Ali Zainal Abidin, kemudian pada putranya Muhammad Al Bagir.

Ubaidillah adalah putra Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa Arrumi bin Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far Asshadiq bin Muharnmad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, suami Siti Fatimah Azzahra' putri Rasul Allah saw.

Sumber : Sirah As-Salaf min Bani 'Alawy Al-Husainiyin, oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri,
Lanjut

Sekilas Sejarah Salaf Al Alawiyin ( Bagian 2 )

Permulaan Sejarah Perjalanan Hidup Alawiyin

Abad ketiga Hijrah merupakan abad kegoncang­an dan kekacauan, khususnya di negeri Irak yang selalu terjadi pemberontakan dan huru-hara (fitnah). Kerajaan Bani Abbas tidak mampu lagi mengekang dan mengatasi pemberontakan dan huru-hara yang senantiasa timbul dan telah mem­buat seluruh dunia Islam bergolak laksana periuk yang sedang mendidih, sedang penguasa tak mampu menegakkan keamanan umum yang telah goyah selama bertahun-tahun.

Semua itu membuat banyak orang - terutama tokoh-tokoh yang menonjol - berhijrah meninggal­kan kampung halamannya mencari kediaman yang aman.

Di antara orang yang hijrah dari Irak adalah Al-Iman Ahmad Al-Muhajir Ilallah [3] (berhijrah mencari ridha ALLAH) Sebab Al Muhajir- seperti tokoh-tokoh ahlul bait yang lainnya selalu merasa ketakutan dan senantiasa menjadi sasaran pembunuhan dan penganiyaan. Hal demikian makin terasa pada saat terjadi pemberontakan dan huru-hara, di mana musuh-musuh Alawiyin rnenggunakannya sebagai kesempatan untuk menganiaya dan membantai mereka. Hal ini terutarna akibat rasa khawatir bahwa di dalam suasana kacau itu, kaum Alawlyin akan menampilkan diri untuk memegang kendali kekuasaan di tengah umat Islam yang tetap berpendirian bahwa kewajiban mereka adalah menye­rahkan tongkat kepemimpinan kepada Ahlulbait, keturunan Nabi pembawa agama ini serta bernaung di bawah panjinya, betapapun secara lahir mereka (umat Islam) tunduk kepada pemimpin yang lain. Atau demikianlah semestinya.

Namun banyak di antara tokoh Alawiyin ber­usaha menahan diri dan menghindar untuk tidak terjebak ke dalam huru-hara itu serta berupaya untuk tidak terlibat dalam pergolakan-pergolakan politik, disebabkan pelajaran-pelajaran praktis yang mereka terima dari berbagai pengalaman dalam bidang ini. Karena itu, bergerak di dalam lapangan politik - menurut pandangan mereka - akan selalu berakhir dengan kegagalan. Demikianlah pendirian segolongan Alawiyin. Namun ada segolongan lain berpendirian, bahwa Alawiyin harus berkorban dalam segalanya untuk menyelamatkan umat, yang harus terus menerus berjuang sehingga tujuan ter­capai, atau mati bergelimang darah di tengah medan pertempuran.

Imam Al Muhajir termasuk golongan pertama, sedang saudaranya Muhammad bin Isa termasuk golongan kedua, dibuktikan dengan perlawanannya terhadap kekuasaan Abbasiyah. Dalam hal ini, Al Muhajir selalu memperingatkan dan memberi nasihat kepada saudaranya agar tidak melakukan perlawanan. Peringatan dan nasihat diberikan secara terus menerus, sehingga akhirnya merasa puas dan yakin akan kebenaran pendirian Al Muhajir, lalu menghentikan perlawanannya.

Jadi jelaslah, Al Muhajir memilih tinggal di Hadramaut (Yaman Selatan), negeri yang tandus gersang, hampir terputus hubungannya dengan dunia luar, hanyalah sekadar dapat hidup aman dan damai bersama keluarganya, serta dapat menunai­kan kewajiban agama dan kegiatan duniawi dalam suasana tenteram dan aman, setelah menyaksikan segala pengalaman yang terjadi baik di negeri Irak maupun di daerah-daerah lain, berupa pembe­rontakan, huru-hara dan peristiwa-peristiwa lain. Semua itu menyebabkan hilangnya ketenangan dan menyusahkan hati.

Hendaknya kita tidak terburu untuk berpra­sangka bhahwa Al Muhajir hanya bermaksud mengu­rung diri, serta beruzlah tanpa mempedulikan umat dan masyarakat di sekitarnya. Tidak. Al Muhajir bertujuan mendirikan suatu masyarakat baru, di negeri baru ini, sesuai cita-cita dan keyakinannya.

Oleh karena itu setibanya di negeri ini Al Mu­hajir tak henti hentinya berjuang melawan kaum Ibadhiah [4] yang merupakan mayoritas penduduk Hadramaut. Yaitu setelah gagal berdialog dengan mereka secara baik, sehingga terpaksa senjata harus berbicara. Al Muhajir dan pengikutnya yang ber­jumlah kecil itu, telah mendapat dukungan dari penduduk Jubail dari Wadi Dau'an yang bersimpati kepada Ahlulbait.

Cara hidup Al Muhajir (mencari kedamaian dan kebenaran ) diterima kemudian oleh anak cucunya dan benar-benar mempengaruhi jiwa mereka, yang akhirnya kehidupan mereka hampir sama di semua tahap-tahap sejarah, sebagai akan dituturkan kemudian.

Tahap-Tahap Sejarah Alawiyin

Sesungguhnya sejarah perkembangan Alawiyin, mengalami pasang-naik dan pasang-surat, sesuai dengan kehidupan mereka yang selalu berubah. bagaimanapun juga, golongan Alawiyin selalu me­melihara identitasnya, yaitu berpegang teguh dengan KITAB ALLAH (Al Qur’an) dan SUNNAH (ajaran-ajaran nabi Muhammad SAW dalam segala bidang kehidupan) luhur yang padu dan utuh secara Islam.

Adapun sejarah perkembangan Alawiyin -- me­nurut pandangan kami dapat dibagi menjadi empat tahap, sebagai berikut :



Tahap-tahap itu diikuti pula dengan perbedaan gelar dan sebutan bagi tokoh tokoh Alawinyin, maka sebutan atau gelar setiap tahap berbeda dengan gelar atau sebutan pada tahap yang lain. Sebagai berikut :



Sebutan demikian itulah yang digunakan orang bagi tokoh-tokoh Alawiyin pada masing-masing tahap.

Kendati demikian, saya tidak bermaksud me­ngatakan bahwa sebutan-sebutan dan gelar-gelar itu khusus bagi tokoh-tokoh Alawiyin. Hanya saja - seperti diketahui sebutan dan gelar-gelar itu lebih populer penggunaannya bagi mereka.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki :
03. Ahmad bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’farAsshadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husin. Al Muhajir Ila Allah (orang yang berhijrah menuntut ridha Allah) meninggalkan Basrah di Irak pada tahun 317 H. bersama keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 70 orang, menuju Hijaz (Saudi Arabia), kemudian ke Yaman (Utara), dan selanjutnya Hadramaut (Yaman Selatan). Al Muhajir sampai di Hadramaut pada tahun 318 H dan untuk pertama kali mendirikan rumah di Hajrain, lalu pindah ke Husayisah tempat beliau menetap hingga wafat pada tahun 345 H.

04. Ibadhiah adalah salah satu golongan Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibadh. Berkali-kali kelompok ini memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan yang paling terkenal adalah pemberontakan mereka dibawah pimpinan Abdullah bin Yahya,sekitar tahun 129 H . Golongan ini kemudian mengembangkan pengaruhnya di Oman, Yaman dan Hadramaut.

Sumber : Sirah As-Salaf min Bani 'Alawy Al-Husainiyin, oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri,

Lanjut